Strategi News — Para pakar keamanan memperingatkan Amerika Serikat agar tidak terburu-buru menggunakan rudal hipersonik Dark Eagle jika memutuskan menyerang Iran. Setidaknya ada tiga alasan mengapa penggunaan senjata itu bisa menjadi bumerang bagi Washington.
Dark Eagle adalah rudal hipersonik jarak jauh milik militer AS yang mampu melesat dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara. Senjata ini dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara canggih dan menghancurkan target bernilai tinggi dalam waktu singkat.
Penggunaan Dark Eagle Bisa Dianggap Penuhi Ancaman Lenyapkan Peradaban Iran
Salah satu kekhawatiran terbesar yang disampaikan para pakar adalah soal persepsi. Jika AS meluncurkan Dark Eagle ke Iran, tindakan itu berpotensi ditafsirkan sebagai realisasi ancaman Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyatakan akan melenyapkan peradaban Iran. Framing semacam itu bukan hanya berbahaya secara diplomatik, tapi juga bisa memicu eskalasi yang jauh lebih luas dari sekadar serangan militer terbatas.
Baca Juga:
Implikasinya bukan hanya soal Iran. Negara-negara lain, termasuk sekutu regional Teheran, bisa membaca serangan itu sebagai tanda bahwa AS benar-benar berniat menghancurkan negara tersebut secara total, bukan sekadar menetralisir fasilitas nuklir atau target militer tertentu.
Risiko Eskalasi yang Sulit Dikendalikan
Rudal hipersonik seperti Dark Eagle, karena kecepatannya yang ekstrem, nyaris tidak memberi waktu bagi pihak yang diserang untuk merespons secara terukur. Ini membuat risiko salah kalkulasi melonjak tajam. Iran, yang merasa sudah berada di ujung tanduk, kemungkinan besar akan membalas dengan segala cara yang dimilikinya, termasuk melalui proksi-proksi bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Situasi itu bisa menyeret lebih banyak aktor ke dalam konflik, dari kelompok milisi di Irak dan Yaman hingga Hizbullah di Lebanon, yang semuanya memiliki hubungan dekat dengan Teheran.
Preseden Penggunaan Senjata Hipersonik dalam Konflik Aktif
Para pakar juga mengingatkan bahwa penggunaan Dark Eagle akan menjadi preseden bersejarah: pertama kalinya AS menembakkan rudal hipersonik dalam konflik nyata. Langkah itu tidak hanya memperlihatkan kemampuan senjata tersebut kepada dunia, termasuk kepada Rusia dan China, tetapi juga membuka pintu bagi perlombaan penggunaan senjata hipersonik oleh negara-negara lain dalam konflik mereka masing-masing.
Ketegangan antara AS dan Iran sendiri telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan titik-titik kritis seperti pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani pada 2020 dan serangkaian negosiasi nuklir yang berulang kali menemui jalan buntu. Kondisi itu membuat kalkulasi militer di kawasan semakin kompleks dan rentan terhadap kesalahan penilaian dari kedua pihak.
Peringatan para pakar ini muncul di tengah tekanan diplomatik yang terus meningkat antara Washington dan Teheran, sementara negosiasi soal program nuklir Iran belum menunjukkan kemajuan yang berarti.
Editor: Sela Rahmawati