Strategi News — Kementerian Kesehatan mendorong Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Jakarta II untuk memperkuat perannya dalam mencetak tenaga kesehatan yang siap menghadapi beban penyakit kronis di Indonesia, terutama penyakit hati atau liver, bertepatan dengan Dies Natalis ke-25 institusi tersebut.
Direktorat Penyediaan SDM Kesehatan Kemenkes menegaskan bahwa institusi pendidikan kesehatan seperti Poltekkes Kemenkes Jakarta II memegang peran penting dalam menjawab tantangan itu. “Peran institusi pendidikan kesehatan sangat krusial dalam menyiapkan SDM yang kompeten untuk menghadapi penyakit kronis, termasuk penyakit hati,” demikian disampaikan perwakilan Direktorat Penyediaan SDM Kesehatan Kemenkes dalam rangkaian peringatan dies natalis tersebut.
Penyakit Hati Jadi Fokus Perhatian Kemenkes
Penyakit hati atau liver termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular yang terus membebani sistem kesehatan Indonesia. Kondisi ini mencakup berbagai gangguan fungsi hati, mulai dari hepatitis kronis, sirosis, hingga kanker hati, yang kerap membutuhkan penanganan jangka panjang oleh tenaga medis terlatih.
Baca Juga:
Kemenkes melihat lembaga pendidikan vokasi kesehatan sebagai ujung tombak penyediaan tenaga ahli di bidang ini. Poltekkes, sebagai satuan kerja di bawah Kemenkes, diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah sakit di kota besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga kesehatan spesialis.
25 Tahun Cetak Tenaga Kesehatan
Peringatan Dies Natalis ke-25 Poltekkes Kemenkes Jakarta II menjadi ruang evaluasi sekaligus penegasan arah institusi ke depan. Selama dua setengah dekade, lembaga ini telah berkontribusi dalam penyediaan SDM kesehatan untuk berbagai bidang pelayanan medis di Indonesia.
Kemenkes memanfaatkan momentum peringatan ini untuk mengingatkan kembali bahwa tantangan kesehatan masyarakat Indonesia semakin kompleks. Transisi epidemiologi, dari penyakit menular ke penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung, dan gangguan hati, menuntut tenaga kesehatan dengan kompetensi yang lebih spesifik dan terbarukan.
Institusi pendidikan kesehatan kini dituntut tidak sekadar memenuhi kuota lulusan, melainkan memastikan setiap lulusan benar-benar siap menghadapi kompleksitas penyakit yang dihadapi pasien di lapangan.
Editor: Ilham Maulana