Strategi News — Iran menyampaikan proposal negosiasi baru kepada Amerika Serikat melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator, di tengah kebuntuan diplomatik yang berlangsung sejak perang meletus pada akhir Februari lalu. Proposal itu diserahkan pada Kamis malam, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA, Jumat (5/1/2026).
“Republik Islam Iran menyampaikan teks proposal negosiasi terbarunya kepada Pakistan, sebagai mediator dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, pada Kamis malam,” demikian bunyi laporan IRNA yang dikutip dari Arab News.
Isi Proposal Belum Diungkap, Pembicaraan Sempat Buntu
Apa yang tertuang dalam proposal itu belum diketahui publik. IRNA tidak merinci substansi tawaran tersebut, dan belum ada pernyataan resmi dari pihak Amerika Serikat.
Baca Juga:
Sebelumnya, kedua negara sempat menggelar satu putaran pembicaraan di tengah gencatan senjata yang rapuh, setelah hampir 40 hari konflik bersenjata yang dipicu oleh agresi AS-Israel pada 28 Februari. Perundingan itu kemudian macet setelah AS memberlakukan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran. Tehran membalas dengan menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk dan terpenting di dunia, hanya mengizinkan segelintir kapal melintas sejak konflik dimulai.
Penutupan Selat Hormuz berdampak langsung pada pasokan minyak global, mengingat jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi pintu keluar utama ekspor energi dari negara-negara Teluk.
Menlu Iran Telepon Lima Negara Sekaligus
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menelepon para mitranya dari Arab Saudi, Qatar, Turki, Irak, dan Azerbaijan. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pembicaraan itu membahas “inisiatif terbaru Republik Islam untuk mengakhiri perang”.
Rangkaian kontak diplomatik itu menunjukkan Tehran sedang aktif membangun dukungan regional sebelum proposal ke Washington benar-benar dibahas di meja perundingan.
Dengan proposal baru di tangan Pakistan dan komunikasi intensif ke negara-negara kawasan, pertanyaan terbesar kini ada di Washington: apakah AS bersedia kembali duduk berunding, dan atas syarat apa gencatan senjata yang ada bisa bertahan.
Editor: Ilham Maulana