Strategi News — Dua proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sukabumi, Jawa Barat, dengan total kapasitas 174 megawatt (MW) siap memasuki tahap konstruksi pada 2026. Perizinan kedua proyek PLTA itu sudah rampung, membuka jalan bagi PT Berkat Cawan Group untuk segera merealisasikan investasi energi terbarukan yang selama ini masih dalam tahap persiapan.
Kedua proyek tersebut adalah PLTA Cibuni berkapasitas 99 MW, yang membentang di wilayah Sukabumi dan Cianjur, serta PLTA Cimandiri berkapasitas 75 MW di Sukabumi. Keduanya digarap oleh anak usaha PT Berkat Cawan Energi.
99 MW dari Cibuni, 75 MW dari Cimandiri
Pemilik PT Berkat Cawan Group, Albert Junior, mengatakan proyek ini diharapkan memperkuat pasokan listrik nasional sekaligus mempercepat transisi energi bersih Indonesia. “Saat ini, dua proyek itu tengah dirampungkan oleh PT Berkat Cawan Energi. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat pasokan listrik nasional sekaligus menjadi bagian penting dalam akselerasi transisi energi bersih di Indonesia,” kata Albert dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis.
Baca Juga:
Albert menyebut posisi geografis Indonesia yang dikelilingi sumber air menjadi keunggulan yang belum dimanfaatkan secara optimal. PLTA di Sukabumi, menurutnya, dirancang sebagai penyuplai listrik bagi Jawa Barat. Jika potensi energi air dikelola maksimal, Indonesia berpeluang mencapai kemandirian energi tanpa harus mengorbankan lahan pertanian maupun perkebunan.
Energi Air Disiapkan Gantikan Batu Bara
Albert menghubungkan ketahanan energi langsung dengan ketahanan pangan. Logikanya sederhana: pengelolaan sumber daya air tidak hanya menghasilkan listrik, tapi juga mengairi sawah dan menyediakan air bersih bagi masyarakat.
“Ada tiga manfaat utama yang bisa kita peroleh, yakni energi listrik, dukungan untuk pertanian, dan pengelolaan air bersih. Bahkan kualitas airnya pun bisa lebih terjamin,” ujarnya.
Ia memperingatkan risiko ketergantungan pada batu bara. Bila pasokan energi fosil terganggu, distribusi listrik ikut terdampak, dan seluruh rantai produksi pangan dari pengairan hingga pengolahan hasil pertanian bisa kolaps. Karena itu, menurutnya, membenahi infrastruktur energi adalah syarat pertama sebelum bicara ketahanan pangan.
Soal dominasi energi fosil, Albert juga menyoroti dampaknya pada harga. Tingginya harga energi dan mineral dinilainya masih dipengaruhi oleh ketergantungan pada batu bara dan solar. “Perlu transformasi dengan menjadikan energi air menjadi solusi strategis. Proyek di Sukabumi upaya nyata menggantikan ketergantungan terhadap batu bara dengan energi terbarukan,” katanya.
“Indonesia memiliki banyak sungai, sehingga tidak harus selalu bergantung pada sumber energi lain,” tambah Albert.
Dengan perizinan yang sudah beres dan konstruksi dijadwalkan mulai tahun ini, publik kini menunggu realisasi kedua proyek itu tepat waktu sebagai ujian nyata komitmen transisi energi terbarukan di sektor swasta.
Editor: Sela Rahmawati