6 Tahun Merantau dari Flores, Yosef Rifaldi Tempuh UTBK SNBT 2026 di IPB Demi Jadi Akuntan

Strategi News — Enam tahun. Selama itulah Yosef Rifaldi Nong Roy meninggalkan kampung halamannya di Flores, Nusa Tenggara Timur, demi satu tujuan: lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan menjadi seorang akuntan.

Kisah perjuangan pemuda asal NTT ini mencuat di tengah pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 di IPB University. Yosef bukan peserta biasa. Ia datang dengan beban perjalanan bertahun-tahun yang jauh lebih panjang dari sekadar perjalanan geografis dari NTT ke Jawa Barat.

Flores ke Jawa: Perjalanan Panjang Seorang Perantau Muda

Merantau sejak usia belia bukan keputusan mudah. Yosef memilih meninggalkan NTT enam tahun lalu, menempuh jarak ratusan kilometer dari Kepulauan Flores menuju Jawa, semata demi mendapat akses pendidikan yang lebih baik dan memperbesar peluangnya masuk universitas impian.

NTT secara umum dikenal sebagai salah satu provinsi dengan keterbatasan akses pendidikan berkualitas, terutama di wilayah kepulauan seperti Flores. Kondisi geografis yang terfragmentasi membuat banyak pelajar dari daerah itu harus memilih antara bertahan dengan fasilitas seadanya atau merantau demi masa depan yang berbeda. Yosef memilih yang kedua.

Mimpi Jadi Akuntan, Pilihan Masuk IPB University

IPB University, yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, menjadi salah satu lokasi pelaksanaan UTBK SNBT 2026. Di sinilah Yosef duduk mengerjakan soal, membawa harapan yang sudah ia jaga selama setengah dekade lebih.

Cita-citanya spesifik: akuntan. Profesi yang menuntut ketelitian, kemampuan analitis, dan fondasi pendidikan formal yang kuat di bidang ekonomi atau bisnis.

UTBK SNBT sendiri merupakan jalur seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang diikuti jutaan calon mahasiswa di seluruh Indonesia setiap tahunnya. Persaingannya ketat, dan bagi peserta dari daerah terpencil seperti NTT, modal perjuangan sering kali harus lebih besar dibanding peserta dari kota-kota besar yang infrastruktur pendidikannya jauh lebih lengkap.

Kisah Yosef mencerminkan realita yang dihadapi banyak pelajar Indonesia dari daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal): bukan tidak mampu bersaing, tapi harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk berada di garis start yang sama.

Penulis: Ilham Maulana
Editor: Nunung Septiana

Pos terkait