Waspada Nomor +62 857-5244-6619 Mengaku Plt. Direktur RSUD dr. Rehatta, Pihak RS Minta Segera Diblokir

Strategi News — Satu nomor WhatsApp palsu sudah beredar mengatasnamakan pejabat RSUD dr. Rehatta. Nomor +62 857-5244-6619 mengaku sebagai dr. Anang Murdiatmoko, M.Kes, Sp.PD, yang saat ini menjabat Plt. Direktur rumah sakit tersebut — padahal nomor itu sama sekali bukan milik beliau.

Pihak RSUD dr. Rehatta secara resmi memperingatkan masyarakat agar tidak merespons kontak dari nomor tersebut. Peringatan ini disebarluaskan langsung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui kanal resmi mereka.

Bacaan Lainnya

Nomor Penipu Sudah Teridentifikasi: +62 857-5244-6619

Modus penipuan dengan mencatut nama pejabat rumah sakit bukan hal baru. Pelaku biasanya memanfaatkan nama dan jabatan dokter senior untuk meminta uang, data pribadi pasien, atau informasi lain dari korban yang tidak curiga. Dalam kasus ini, nama yang dicatut adalah Plt. Direktur RSUD dr. Rehatta, seorang dokter spesialis penyakit dalam.

“Mohon waspada terhadap oknum yang mengatasnamakan dr. Anang Murdiatmoko, M.Kes, Sp.PD. Jika dihubungi oleh nomor +62 857-5244-6619, mohon untuk abaikan dan blokir. Itu bukan nomor resmi beliau,” demikian bunyi peringatan resmi yang dirilis pihak RSUD dr. Rehatta.

Imbauan itu tegas: abaikan dan langsung blokir. Jangan dibalas, jangan diklik tautan yang dikirim, dan jangan berikan data apapun.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Terlanjur Dihubungi

Bagi warga yang sudah menerima pesan dari nomor tersebut, langkah pertama adalah tidak memenuhi permintaan apapun dari pengirim. Segera blokir nomor +62 857-5244-6619 melalui fitur blokir di aplikasi WhatsApp, dan laporkan sebagai spam agar platform turut menangani akun penipu tersebut.

Jika ada informasi pribadi yang sudah terlanjur dibagikan, warga disarankan segera menghubungi pihak RSUD dr. Rehatta melalui nomor resmi yang tertera di situs atau papan informasi rumah sakit untuk mendapat panduan lebih lanjut.

Penipuan berkedok identitas pejabat kesehatan kerap memanfaatkan kepercayaan publik terhadap institusi medis. Kewaspadaan warga menjadi pertahanan paling awal sebelum kasus semacam ini berkembang lebih jauh.

Penulis: Teras News
Editor: Pablo Gerald

Pos terkait