Strategi News — Rabu (25/6), diskusi seputar tata kelola kesehatan pesantren kembali mencuat di kalangan pengelola lembaga pendidikan Islam. Satu pertanyaan mendasar mengemuka: di tahap mana kondisi pesantren kita saat ini, dan sudahkah penanganannya sesuai dengan akar persoalannya?
Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Di dunia medis, satu prinsip berlaku mutlak — beda penyakit, beda obat. Prinsip yang sama berlaku pula dalam pengelolaan pesantren. Memberikan solusi yang tidak sesuai dengan kondisi riil sebuah pesantren justru berpotensi memperburuk keadaan, bukan memperbaikinya.
Diagnosis Sebelum Penanganan
Pesantren, sebagai lembaga pendidikan yang telah berakar kuat dalam tradisi Islam Indonesia, menghadapi spektrum tantangan yang sangat beragam. Ada pesantren yang masih bergulat dengan keterbatasan infrastruktur dasar. Ada pula yang sudah melampaui tahap itu namun menghadapi krisis kepemimpinan atau regenerasi kiai. Sebagian lainnya justru menghadapi tekanan modernisasi kurikulum yang belum sepenuhnya terakomodasi.
Baca Juga:
Tanpa diagnosis yang tepat, intervensi yang diberikan bisa meleset jauh dari sasaran. Pesantren yang sedang krisis SDM tidak akan terselamatkan hanya dengan renovasi gedung. Pesantren yang butuh pembaruan kurikulum tidak cukup dibantu dengan bantuan peralatan dapur umum.
Tiga Kategori Kondisi yang Kerap Tertukar
Dalam praktik pendampingan pesantren, setidaknya ada tiga kategori kondisi yang sering keliru penanganannya. Pertama, pesantren yang sehat secara organisasi namun stagnan secara akademik. Kedua, pesantren yang dinamis dari sisi kurikulum namun rapuh secara kelembagaan. Ketiga, pesantren yang kuat secara tradisi namun belum mampu merespons kebutuhan santri generasi kini.
Masing-masing kategori butuh pendekatan yang sama sekali berbeda. Menyamaratakan solusi untuk ketiganya adalah kesalahan yang mudah terjadi, terutama ketika tekanan untuk bertindak cepat lebih besar dari keinginan untuk berpikir cermat.
Pengelola Pesantren Didorong Jujur Menilai Kondisi Internal
Para pengelola pesantren didorong untuk berani melakukan penilaian jujur terhadap kondisi internal lembaga mereka sebelum mengambil langkah apapun. Seperti dilaporkan Sindonews, pertanyaan kunci yang perlu dijawab adalah: pesantren kita ada di tahap mana sekarang?
Tanpa jawaban yang jujur atas pertanyaan itu, semua program pengembangan, semua alokasi anggaran, dan semua niat baik pengelola bisa berakhir sia-sia.
Kesehatan pesantren bukan hanya soal fisik bangunan atau kelengkapan fasilitas. Ia menyangkut ekosistem menyeluruh — dari pola kepemimpinan, kualitas pengajaran, kesejahteraan ustaz dan santri, hingga relevansi pesantren di tengah masyarakat sekitarnya. Semua dimensi itu perlu diperiksa sebelum resep apapun diberikan.
Editor: Ilham Maulana