Indonesia Amankan Pasokan Minyak Rusia 150 Juta Barel, Bahlil: Stok Satu Tahun Sudah Clear

Strategi News — Indonesia memastikan ketersediaan minyak mentah untuk satu tahun ke depan setelah menyepakati pasokan dari Rusia sebesar 150 juta barel, sebagian besar dengan harga khusus. Kepastian ini datang di tengah gejolak harga energi global akibat konflik yang berlangsung di Timur Tengah.

“Kemarin kita di Rusia. Di Rusia kita udah dapat satu tahun ini clear. Jadi untuk stok crude kita satu tahun ke depan Insya Allah sudah selesai,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).

Bacaan Lainnya

Produksi Dalam Negeri Hanya 605 Ribu Barel, Konsumsi Capai 1,6 Juta Barel Per Hari

Kesenjangan antara produksi dan kebutuhan minyak nasional inilah yang membuat impor dari Rusia menjadi krusial. Produksi minyak mentah Indonesia saat ini hanya mencapai 605 ribu barel per hari, sementara konsumsi nasional sudah menyentuh angka 1,6 juta barel per hari. Artinya, lebih dari separuh kebutuhan bahan bakar nasional bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Kondisi ini berdampak langsung pada warga. Ketika pasokan impor terganggu, risiko kelangkaan bahan bakar di SPBU hingga kenaikan harga BBM bersubsidi bisa mengikuti. Dengan terjaminnya stok dari Rusia selama setahun penuh, pemerintah berharap harga energi di tingkat konsumen tetap stabil.

Bahlil menyebut keterpurukan produksi dalam negeri bukan terjadi dalam semalam. Ribuan sumur minyak di Indonesia sudah sangat tua, sebagian merupakan warisan era kolonial Belanda, dan dibiarkan tidak produktif meski cadangan di dalamnya masih ada. Pemerintah kini mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk menggunakan teknologi baru agar sumur-sumur itu bisa kembali berproduksi. Negara menawarkan insentif sebagai kompensasi, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat setempat untuk turut mengelola sumur minyak secara legal.

Pertama dalam Sepuluh Tahun, Target Produksi Minyak Terlampaui

Ada satu catatan positif di tengah tekanan ini. Pada 2025, untuk pertama kalinya dalam satu dekade, produksi minyak nasional berhasil melampaui target yang ditetapkan dalam APBN. Pencapaian itu menjadi sinyal bahwa upaya revitalisasi sumur tua mulai membuahkan hasil, meski angkanya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Bahlil juga menyoroti perjalanan panjang posisi Indonesia di pasar energi global. Negeri ini pernah duduk sebagai eksportir minyak dan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Kini posisinya berbalik: Indonesia adalah importir. “Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya harus mencapai kemandirian energi,” kata Bahlil.

JP Morgan Tempatkan Indonesia Kedua dalam Ketahanan Energi dari 52 Negara

Di balik defisit produksi itu, pemerintah mengklaim strategi diversifikasi energi yang ditempuh selama ini membuat posisi Indonesia relatif kuat. Bahlil merujuk pada penilaian lembaga keuangan asal Amerika Serikat, JP Morgan, yang menempatkan Indonesia di urutan kedua dari 52 negara yang disurvei dalam hal ketahanan energi, tepat di bawah Afrika Selatan.

Faktor-faktor yang disebut Bahlil turut memperkuat posisi itu antara lain cadangan batu bara dalam negeri yang besar serta optimalisasi sawit sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar melalui program biodiesel.

Informasi soal pasokan 150 juta barel dari Rusia sebelumnya disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, yang menyebut minyak tersebut diperoleh dengan harga khusus yang telah disepakati. Pernyataan Bahlil pada Sabtu (2/4/2026) memperkuat kepastian bahwa kesepakatan itu sudah final dan siap berjalan.

Tantangan terbesar ke depan bukan sekadar mengamankan impor, melainkan menekan ketergantungan pada pasokan luar negeri yang bisa sewaktu-waktu terdampak dinamika geopolitik. Pemerintah menargetkan kemandirian energi, tapi jalan ke sana masih panjang.

Penulis: Ilham Maulana
Editor: Nunung Septiana

Pos terkait