Strategi News — Pesanan di industri konveksi skala kecil dan menengah anjlok hingga separuhnya. Nandi Herdiaman, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Bandung (IPKB), mengungkap kondisi itu kepada CNBC Indonesia pada Rabu (29/4/2026).
“Jelas. Ya kan gini, contoh biasa dia order 100 pieces gitu, nah sekarang bisa 60, 50 atau bahkan separuhnya,” kata Nandi. Bagi pelaku usaha konveksi yang kapasitas produksinya sudah disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja, penurunan sebesar itu langsung terasa di kas harian.
Bertahan Tapi Kas Menipis
Belum ada yang menutup usaha. Tapi tekanan terus menumpuk.
Baca Juga:
“Jadi kalau sampai saat ini menyatakan tutup belum, masih tetap gitu bertahan, cuma tadi bertahan ini lama-lama kan ya menguras tabungan juga nih,” ujar Nandi. Banyak pelaku usaha kini menahan ekspansi dan memangkas aktivitas produksi untuk menekan biaya operasional, meski itu berarti kapasitas terpasang menganggur.
Kondisi ini terjadi di tengah kontraksi sektor tekstil pada April 2026. Indeks Kepercayaan Industri (IKI), yang mengukur kepercayaan pelaku manufaktur terhadap kondisi usaha, mencatat angka keseluruhan 51,75 untuk bulan itu. Namun subsektor tekstil justru berada di zona kontraksi, berbeda dari subsektor garmen yang masih mencatat kinerja relatif stabil. Indeks pesanan baru turun ke level 51,43 dan produksi ke 51,34.
95 Persen Produk IKM Bergantung Pasar Dalam Negeri
Ketergantungan pada pasar domestik membuat industri konveksi skala kecil sangat rentan terhadap guncangan permintaan lokal. Nandi menyebut hampir seluruh produksi IKM konveksi diserap pasar dalam negeri.
“Karena yang dibikin sama IKM khususnya kebanyakan itu hampir 95% itu ke dalam negeri market-nya,” ucapnya.
Masalahnya, pasar dalam negeri itu kini dibanjiri produk impor berharga murah. Produk luar yang masuk dengan harga lebih rendah menggerus daya saing produk lokal, terutama di segmen harga yang selama ini menjadi ceruk utama pelaku IKM.
“Nah yang dikhawatirkan itu tadi market dalam negerinya dikuasai masih banyak produk luar yang murah. Nah ini gitu, dilema bagi kami,” kata Nandi.
Minta Intervensi Kebijakan untuk Kendalikan Impor
Para pelaku usaha konveksi berharap pemerintah turun tangan menjaga keseimbangan pasar, khususnya melalui pengendalian arus masuk produk impor murah dan perlindungan distribusi produk lokal. Tanpa perlindungan itu, tekanan terhadap IKM konveksi diperkirakan akan semakin berat seiring ketidakpastian permintaan yang belum menunjukkan tanda pemulihan.
IKI April 2026 memang mencatat peningkatan indeks permintaan dari dalam negeri ke level 50,90. Namun bagi pelaku IKM konveksi di lapangan, angka itu belum terasa. Order tetap sepi, dan tabungan terus menipis.
Editor: Ilham Maulana