Strategi News — 149 yuan — sekitar Rp 378.000 — cukup untuk mendatangkan satu petugas kebersihan sekaligus satu robot ke dalam rumah selama tiga jam. Itulah tarif layanan bersih-bersih rumah berbasis robot dan manusia yang kini mulai beroperasi di beberapa kota besar China, hasil kolaborasi startup Shenzhen, X Square Robot, dengan platform layanan rumah tangga 58.com.
Layanan ini resmi diluncurkan pada Maret 2025. Robot yang digunakan berbentuk badan beroda dengan dua lengan mekanis, dirancang khusus untuk bergerak di dalam hunian nyata, bukan sekadar lingkungan lab yang steril dan terkontrol.
Tugas Dibagi: Robot Urus Lantai, Manusia Urus Dapur dan Kamar Mandi
Sistem kerjanya cukup jelas. Robot menangani pekerjaan dasar: memungut sampah yang berserakan, merapikan sepatu dan mainan, serta mengganti kantong tempat sampah. Petugas kebersihan manusia mengambil alih area yang lebih kompleks seperti dapur, kamar mandi, dan kamar tidur, sekaligus berinteraksi langsung dengan pemilik rumah.
Baca Juga:
Lei Xiaoli (43), salah satu petugas kebersihan yang bekerja bersama robot ini, mengaku terkejut saat pertama kali berhadapan dengan mesin tersebut. “Saat pertama kali melihatnya, saya merasa sangat penasaran dan terus mengamati cara kerjanya,” katanya. Setelah melewati lebih dari 20 sesi kerja bersama, pandangannya berubah. “Robot itu dapat mengidentifikasi sendiri area-area yang perlu dibersihkan, sehingga mengurangi beban kerja saya,” ujar Lei.
Bagi Lei, ini bukan soal digantikan mesin. Ia menyebutnya sebagai kemitraan kerja yang baru, di mana dirinya bisa fokus pada pekerjaan yang membutuhkan sentuhan manusia sementara robot mengurus hal-hal rutin di lantai.
Uji Coba Kulit Pisang dan Tulang Ayam: Robot Lulus
Salah satu pelanggan awal di Shenzhen, yang menggunakan nama samaran Ge Landong, sengaja menguji kemampuan robot dengan menyerakkan sampah rumah tangga di ruang tamunya. Hasilnya melampaui ekspektasinya.
“Entah itu kulit pisang atau tulang ayam berukuran kecil, robot itu dapat mengenalinya dengan akurat, memungutnya, lalu membuangnya ke tempat sampah,” tutur Ge. “Persepsi dan presisinya melampaui ekspektasi saya.”
Meski begitu, Ge juga mencatat kelemahan yang cukup nyata. Ukuran robot terbilang besar sehingga tidak bisa menjangkau sudut-sudut sempit. Kemampuannya pun masih terbatas pada tugas-tugas sederhana, sehingga petugas kebersihan tetap harus menindaklanjuti banyak area. Selain itu, setiap sesi layanan masih didampingi seorang insinyur dari X Square Robot untuk memastikan semuanya berjalan tanpa gangguan.
X Square Robot Akui Masih Lambat, Target 1.000 Unit pada 2026
Perusahaan tidak menutup-nutupi keterbatasan produknya. Dalam unggahan di media sosial pada 15 April, X Square Robot menyatakan robot mereka saat ini bergerak lebih lambat dibanding manusia dan masih perlu penyempurnaan dalam beradaptasi dengan tata ruang hunian yang kompleks dan tidak seragam.
Ekspansi tetap berjalan. Layanan ini sudah masuk ke Beijing pada 21 April, menyusul peluncuran perdananya di Shenzhen. X Square Robot menargetkan pengerahan 1.000 unit robot pada 2026 seiring rencana merambah lebih banyak kota di China.
Pasar layanan rumah tangga di China terbilang masif, dan kehadiran robot sebagai mitra kerja manusia di sektor ini membuka pertanyaan praktis bagi jutaan pekerja kebersihan: apakah mesin ini akan menyerap pekerjaan mereka, atau justru membuat pekerjaan itu lebih ringan? Dari pengalaman Lei Xiaoli sejauh ini, jawabannya condong ke yang kedua. Setidaknya, untuk saat ini.
Editor: Pablo Gerald