Konversi Motor Listrik Hemat 267 Liter BBM Per Unit per Tahun, Indonesia Masuk Fase Ekspansif EV

Strategi News — Satu motor berbahan bakar konvensional yang dikonversi menjadi kendaraan listrik bisa menghemat 267 liter BBM per tahunnya. Angka itu terdengar kecil untuk satu kendaraan, tapi dikalikan ribuan unit, dampaknya langsung terasa pada beban subsidi negara yang selama ini besar.

Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis, Jisman P. Hutajulu, menyampaikan data tersebut dalam forum EV Transition in Mining Industry Outlook 2026, Rabu (29/4/2026). Ia menyebut program konversi motor listrik yang berjalan sejak 2023 telah berhasil mengubah 2.250 unit kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE) menjadi kendaraan listrik. Pemerintah kini tengah menyusun skema lanjutan agar program ini bisa diperluas secara masif.

Bacaan Lainnya

2.250 Unit Sudah Dikonversi, Skema Baru Sedang Disiapkan

Bagi pemilik motor yang ikut program konversi ini, penghematan bahan bakar berarti pengeluaran harian yang lebih ringan. Tidak perlu lagi antre di SPBU, apalagi merasakan dampak langsung setiap kali harga BBM bergerak naik.

Jisman menempatkan program konversi ini sebagai bagian dari pilar ketiga strategi energi nasional, yaitu transisi struktural menuju kendaraan listrik. Tiga pilar lainnya mencakup pengurangan konsumsi energi secara masif, peningkatan energi baru terbarukan (EBT) sebagai substitusi bahan bakar fosil, serta transformasi pembangkit PLN dari BBM dan gas menuju Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS).

“Untuk menjaga momentum tersebut kami juga mendorong program konversi motor listrik yaitu transformasi kendaraan berbasis internal combustion engine menjadi kendaraan listrik,” kata Jisman.

Norwegia dan China Jadi Acuan, Indonesia Disebut Sudah di Jalur Ekspansif

Pemerintah tidak bekerja dari nol. Jisman mengungkapkan pihaknya melakukan studi banding ke negara-negara yang paling berhasil mendorong adopsi kendaraan listrik.

“Kami juga mencoba melakukan benchmarking untuk kendaraan listrik, kita tahu yang paling sukses adalah Norwegia dan China. Kami melihat kebijakan yang efektif, dan pertumbuhan 5-6 tahun itu linear,” ungkapnya.

Indonesia, menurut Jisman, kini sudah masuk ke fase ekspansif, di mana kendaraan-kendaraan listrik sudah lalu lalang di jalanan. Fase ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya ketika EV masih dianggap barang mewah yang jauh dari jangkauan mayoritas warga.

Target 100% Energi Terbarukan dalam 10 Tahun

Di luar kendaraan listrik, Jisman memaparkan gambaran besar yang lebih ambisius. Kapasitas energi terbarukan Indonesia diperkirakan bisa mencapai 100 persen dalam 10 tahun mendatang, ditopang oleh pembangkit tenaga surya, hidro, panas bumi, dan bioenergi.

“Energi baru terbarukan adalah masa depan dan kita harus terus mendorong pembangunan pembangkit dari surya, hidro, panas bumi, dan bio energi,” katanya.

Ketahanan energi nasional juga mencakup penguatan cadangan minyak mentah agar mampu menopang stok kebutuhan selama 30 hari, peningkatan kapasitas kilang untuk menekan impor BBM, serta program mandatory bioetanol dan pemerataan akses energi ke seluruh wilayah Indonesia.

“Kedaulatan sejati hanya dapat dicapai oleh bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan energinya dan mengelola sumber daya alamnya secara mandiri,” tegas Jisman.

Dengan skema perluasan program konversi yang masih digodok, publik kini menunggu berapa target unit baru yang akan ditetapkan pemerintah dan seperti apa insentif yang disiapkan agar lebih banyak pemilik motor mau beralih ke kendaraan listrik.

Penulis: Ilham Maulana
Editor: Pablo Gerald

Pos terkait