ToyaKU Hasilkan 8 Liter Air dari Udara dalam 12 Jam, Udinus Hibahkan ke Pemprov Jateng

Strategi News — Delapan liter air bersih dalam 12 jam — bukan dari sumur, bukan dari sungai, dan bukan dari jaringan PDAM. Itu kemampuan ToyaKU, alat penghasil air minum berbasis teknologi pemanenan uap atmosfer yang dikembangkan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.

Alat tersebut resmi diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada Selasa (5/5/2026). Rektor Udinus Pulung Nurtantio Andono menyerahkan langsung kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, di Semarang. Sumarno bahkan langsung meneguk air hasil produksi ToyaKU di hadapan para hadirin.

Bacaan Lainnya

“Kami mengapresiasi dari teman-teman Udinus yang melakukan inovasi untuk ToyaKU ini. Ini luar biasa karena menangkap air dari udara. Tadi saya mencoba airnya segar,” kata Sumarno.

Dipanen dari Udara, Sudah Bersertifikat Layak Minum Dinkes Semarang

ToyaKU merupakan singkatan dari Smart Atmosphere Water Federation. Lahir dari riset mahasiswa Udinus, alat ini bekerja dengan memanen kelembapan udara dan mengolahnya menjadi air siap konsumsi. Teknologinya sudah dilengkapi kecerdasan buatan dan sistem IoT (Internet of Things).

Yang tak kalah penting: air yang dihasilkan sudah mengantongi sertifikasi layak minum dari Dinas Kesehatan Kota Semarang. Udinus juga tengah mengurus hak paten untuk inovasi ini.

“Insyaallah kesehatannya terjamin, karena sudah diperiksa oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang,” jelas Pulung.

Antisipasi Kemarau Panjang Mulai Juni 2026

Waktu hibah ini bukan tanpa pertimbangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kemarau panjang akan melanda mulai Juni 2026. Sekda Sumarno berharap ToyaKU bisa menjadi bagian dari solusi krisis air bersih yang kerap menghantam sejumlah daerah di Jawa Tengah setiap musim kering tiba.

“Mudah-mudahan dengan model-model alat seperti ini, juga menjadi bagian kita menangani kekurangan kebutuhan air, utamanya air bersih di musim kemarau nanti,” imbuh Sumarno.

Sumarno juga mendorong agar teknologi ini dikembangkan lebih lanjut dan diperbanyak unitnya, terutama untuk daerah yang tidak memiliki mata air atau kesulitan mengakses sumber air bersih konvensional.

Riset Kampus Didorong Masuk ke Masyarakat

Rektor Pulung mengatakan riset yang lahir di kampus seharusnya tidak berhenti di sana. Hibah kepada Pemprov Jateng adalah wujud nyata dari prinsip itu.

“Kami percaya bahwa Pemerintah Provinsi Jateng bisa memanfaatkan hasil riset kami secara maksimal,” ujarnya.

Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jawa Tengah, Laksono Dewanto, menyebut cara kerja ToyaKU mirip dispenser yang menyerap oksigen dari udara lalu mengolahnya menjadi air layak minum. Unit hibah dari Udinus ini akan ditempatkan di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Dengan kapasitas produksi 8 liter per 12 jam dan ancaman kemarau panjang di depan mata, perhatian kini tertuju pada seberapa cepat teknologi ini bisa digandakan dan menjangkau daerah-daerah yang paling membutuhkan.

Penulis: Neneng Nurhayati
Editor: Ilham Maulana

Pos terkait