1,01 Juta Sarjana Menganggur, MPR Desak Pemerintah Reformasi Kurikulum Perguruan Tinggi

Strategi News — Lebih dari satu juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia saat ini tidak memiliki pekerjaan. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata dari jurang yang melebar antara bangku kuliah dan kebutuhan industri.

Data Badan Pusat Statistik per Februari 2025 mencatat total pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 1,01 juta adalah lulusan perguruan tinggi, yakni mereka yang sudah menempuh pendidikan empat tahun atau lebih, namun tetap kesulitan terserap pasar kerja.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah, menurutnya, harus segera turun tangan mendorong penyesuaian antara program studi di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata dunia kerja.

Teknologi Bergerak Lebih Cepat dari Kurikulum

Salah satu akar persoalannya ada di kecepatan perubahan teknologi. Kebutuhan kualifikasi tenaga kerja berkembang jauh lebih cepat dari kemampuan institusi pendidikan memperbarui kurikulumnya. Akibatnya, ilmu yang dipelajari mahasiswa selama empat tahun bisa sudah tertinggal saat mereka wisuda.

“Upaya untuk mengakhiri ketidaksesuaian antara kebutuhan pasar kerja dan kualitas lulusan perguruan tinggi tidak bisa ditunda lagi, di tengah perubahan yang terjadi di sejumlah sektor,” kata Lestari dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Rerie itu mendorong pemerintah menjalin kolaborasi aktif antara perguruan tinggi dan perusahaan. Tujuannya agar program studi yang ada benar-benar dirancang sesuai dengan kualifikasi yang dicari industri, bukan sekadar mengikuti pola akademik lama.

Kolaborasi Tiga Pihak Jadi Kunci

Formula yang Rerie usulkan melibatkan tiga pihak sekaligus: pemerintah, perguruan tinggi, dan perusahaan. Ketiganya harus bergerak bersama dan dinamis dalam memperbarui program studi agar terus relevan dengan kebutuhan lapangan kerja yang terus berubah.

Dengan sinergi itu, Rerie optimistis angka pengangguran bisa ditekan. Para pemberi kerja pun tidak lagi kesulitan mencari kandidat yang memenuhi standar yang mereka butuhkan.

“Langkah segera untuk mengantisipasi perubahan tersebut diharapkan mampu menekan angka pengangguran saat ini,” ujarnya.

Ketidakselarasan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, atau yang dalam literatur ekonomi dikenal sebagai skill mismatch, bukan problem baru di Indonesia. Namun tekanan terhadap isu ini kian besar seiring masuknya kecerdasan buatan dan otomasi ke berbagai sektor industri, yang secara drastis mengubah jenis keterampilan yang dicari perusahaan.

Dengan total pengangguran menyentuh 7,28 juta orang, desakan agar sistem pendidikan tinggi beradaptasi lebih cepat kini datang bukan hanya dari kalangan pengusaha, tetapi juga dari lembaga legislatif tertinggi negara.

Penulis: Hamzah Diaz
Editor: Sela Rahmawati

Pos terkait