Strategi News — Simpanan dolar Amerika Serikat di luar wilayah AS (offshore) menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni USD 14,5 triliun atau setara Rp 252.285 triliun. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset-aset yang dianggap aman oleh pelaku pasar global.
Dolar AS Tetap Jadi Pelabuhan Utama di Tengah Ketidakpastian
Rekor simpanan dolar offshore ini mencerminkan pola klasik yang berulang setiap kali ketidakpastian ekonomi atau geopolitik memuncak: modal dunia mengalir ke instrumen berdenominasi dolar. Dolar AS selama puluhan tahun menduduki posisi sebagai mata uang cadangan utama dunia, sehingga permintaannya cenderung melonjak ketika investor mencari perlindungan dari gejolak pasar.
Simpanan dolar offshore merujuk pada dana dalam denominasi dolar yang disimpan di bank-bank di luar yurisdiksi Amerika Serikat, mulai dari pusat keuangan seperti London, Singapura, hingga Hong Kong. Angka USD 14,5 triliun menggambarkan betapa besarnya volume modal global yang memilih berlindung di balik dolar ketimbang mata uang lain.
Baca Juga:
Krisis Dorong Arus Modal ke Instrumen Paling Dipercaya
Fenomena ini bukan yang pertama. Setiap kali pasar diguncang, baik oleh resesi, konflik, maupun ketegangan dagang, dolar AS kerap menjadi tujuan utama pelarian modal. Yang membuat angka kali ini berbeda adalah skalanya: USD 14,5 triliun adalah level tertinggi yang pernah tercatat untuk simpanan dolar di luar AS.
Permintaan terhadap aset aman yang melonjak juga biasanya mendongkrak nilai tukar dolar terhadap mata uang lain. Kondisi ini memberi tekanan tersendiri bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada impor berdenominasi dolar atau memiliki utang luar negeri dalam mata uang tersebut.
Rekor ini menjadi gambaran nyata betapa tingginya tingkat kecemasan pelaku pasar global saat ini. Selama ketidakpastian belum mereda, arus modal ke dolar kemungkinan besar akan terus bertahan.
Editor: Ilham Maulana