Makam Bupati Somoroto 1820–1851 Bakal Dipindah ke Ponorogo, Plt Bupati Lisdyarita Buka Pintu

Strategi News — 1820–1851. Rentang tahun itulah Raden Tumenggung Soemonegoro menjabat sebagai Bupati Somoroto, meninggalkan jejak sejarah yang kini tersimpan di kawasan Ampel, Surabaya. Namun makam sang bupati dinilai tak lagi layak — lokasinya disebut kerap terinjak-injak peziarah. Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Gebang Tinatar pun mengusulkan pemindahannya ke Ponorogo.

Usulan itu disampaikan langsung kepada Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita dalam acara halal bihalal dan srawung ageng (pertemuan besar paguyuban) yang digelar Minggu (26/4/2026) di aula SMKN PGRI 1 Ponorogo. Respons Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lis, tergolong terbuka. “Pada prinsipnya pemerintah daerah mendukung pelestarian sejarah,” katanya di hadapan para anggota Pakasa.

Bacaan Lainnya

Bupati perempuan pertama di Ponorogo itu juga menyampaikan bahwa komunikasi lanjutan perlu dilakukan sebelum rencana ini berjalan. “Kita komunikasikan lebih dulu. Saya beberapa kali mendapat undangan dari Keraton Surakarta, tapi baru kali ini dapat bertemu langsung dengan keluarga besar Pakasa,” ungkapnya.

Makam di Ampel Sering Terinjak, Makam di Pelem Gurih Butuh Pemugaran

Ketua Pakasa Gebang Tinatar, KP Gendut Wrekso Diningrat, menjelaskan kondisi makam RT Soemonegoro di kawasan Ampel, Surabaya, sudah tidak memadai. Letaknya kurang strategis dan sering terinjak peziarah yang datang ke kawasan tersebut. “Kami sudah melakukan survei ke dua lokasi itu,” terang KP Gendut.

Dua lokasi — bukan satu. Pakasa juga mengusulkan pemugaran makam Raden Mas Martopuro, keturunan Bathoro Katong (tokoh penyebar Islam dan pendiri Ponorogo), yang berada di pemakaman Pelem Gurih, Kelurahan Mangunsuman, Kecamatan Siman. Kondisi makam RM Martopuro disebut memerlukan perawatan serius.

Dua Tokoh dengan Jejak Sejarah Berbeda

RT Soemonegoro bukan sekadar bupati biasa. Selama menjabat di Somoroto, ia dikenal memiliki perhatian tinggi terhadap urusan keagamaan, termasuk mendirikan masjid jami’ sekaligus mendatangkan imam dari Pesantren Tegalsari — pesantren bersejarah di Ponorogo.

RM Martopuro menorehkan kisah berbeda. Namanya lekat dengan perlawanan terhadap penjajahan Belanda, menjadikannya salah satu tokoh yang dihormati dalam narasi sejarah lokal Ponorogo.

Rencana pemindahan makam dan pemugaran ini kini memasuki tahap komunikasi antara Pakasa Gebang Tinatar dengan pemerintah daerah. Kelanjutan prosesnya bergantung pada koordinasi lebih lanjut, termasuk kemungkinan melibatkan pihak Keraton Surakarta sebagai institusi yang menaungi paguyuban tersebut.

Penulis: Juwita Sari
Editor: Nunung Septiana

Pos terkait