Strategi News — Sektor pertambangan dan penggalian kembali mencatat angka negatif. Kontraksi 2,14 persen pada triwulan I 2026 bukan yang pertama — sektor ini sudah terus merosot sejak triwulan I 2025 yang minus 1,23 persen, lalu berlanjut ke minus 1,31 persen pada triwulan IV 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti membeberkan penyebabnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (6/5). Tiga komoditas utama kompak mencatat penurunan produksi: bijih logam, minyak dan gas bumi, serta batu bara.
“Ini pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi tadi kan minus 2,14 persen, karena salah satunya adalah pertambangan bijih logam terkontraksi sebesar 12,22 persen, kemudian juga ada kontraksi pertambangan minyak gas dan juga batubara. Jadi batu bara juga mengalami penurunan produksi,” kata Amalia.
Baca Juga:
Kontraksi bijih logam sebesar 12,22 persen menjadi yang paling dalam di antara ketiga komoditas tersebut. Angka itu jauh melampaui penurunan rata-rata sektor secara keseluruhan.
Pertambangan Pimpin Kontraksi Secara Triwulanan, Minus 8,20 Persen
Jika dilihat secara triwulanan (quarter-to-quarter), gambarannya lebih suram. Sektor pertambangan dan penggalian mencatat kontraksi terdalam dari seluruh lapangan usaha, yakni minus 8,20 persen dibanding triwulan IV 2025. Dua sektor lain yang ikut tertekan adalah jasa pendidikan minus 6,89 persen dan jasa kesehatan serta kegiatan sosial minus 5,50 persen.
Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 juga terkontraksi 0,77 persen secara triwulanan. Penyebab terbesarnya dari sisi pengeluaran adalah konsumsi pemerintah yang anjlok 30,13 persen dibanding kuartal sebelumnya.
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen secara Tahunan
Di tengah tekanan pada sektor pertambangan, ekonomi Indonesia secara tahunan (year-on-year) justru tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026. BPS mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.
Dari sisi produksi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi penopang utama dengan pertumbuhan tertinggi 13,14 persen. Konsumsi pemerintah dari sisi pengeluaran juga tumbuh paling tinggi secara tahunan, yakni 21,81 persen.
Tren kontraksi tiga kuartal beruntun di sektor pertambangan menempatkan tekanan tersendiri bagi penerimaan negara, mengingat batu bara dan migas selama ini menjadi penyumbang signifikan dalam pos pendapatan dari sumber daya alam. Publik menantikan apakah produksi komoditas-komoditas tersebut bisa berbalik arah pada triwulan berikutnya.
Editor: Sela Rahmawati