Strategi News — Selasa (5/5/2026), Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ke Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan itu membahas dua isu besar: dinamika harga minyak mentah global terhadap Indonesian Crude Price (ICP) dan penguatan kepemilikan negara di sektor pertambangan nasional.
Harga Minyak Global Masuk Agenda Utama
Bahlil menyampaikan keterangan kepada wartawan usai bertemu Presiden. Ia mengungkapkan bahwa salah satu topik utama yang dibicarakan langsung dengan Prabowo adalah pergerakan harga minyak mentah dunia dan dampaknya terhadap ICP, acuan harga minyak Indonesia di pasar internasional.
Kondisi harga minyak global memang sedang berfluktuasi tajam dalam beberapa bulan terakhir, dipengaruhi oleh kebijakan produksi negara-negara OPEC+ serta tekanan dari perlambatan ekonomi global. Pergerakan ICP berdampung langsung pada postur anggaran negara, khususnya asumsi harga minyak yang tercantum dalam APBN.
Baca Juga:
Negara Ingin Perkuat Cengkeraman di Sektor Tambang
Selain soal minyak, Bahlil juga menyinggung agenda penguatan kepemilikan negara di sektor pertambangan. Pemerintah, seperti dilaporkan Sekretariat Kabinet RI, ingin memastikan negara memiliki posisi lebih kuat dalam pengelolaan sumber daya alam strategis.
Rapat di Istana itu berlangsung di tengah sejumlah dinamika di sektor energi nasional, termasuk pembahasan perpanjangan kontrak tambang dan evaluasi pengelolaan blok-blok migas yang kontraknya akan habis dalam waktu dekat.
Prabowo sejak awal pemerintahannya memang menempatkan kedaulatan sumber daya alam sebagai prioritas. Pemanggilan Bahlil ke Istana pada Selasa ini mencerminkan intensitas perhatian Presiden terhadap sektor yang menjadi tulang punggung penerimaan negara tersebut.
Bahlil belum merinci keputusan konkret yang dihasilkan dari pertemuan itu. Publik dan pelaku industri energi kini menanti kebijakan resmi yang akan keluar dari agenda pembahasan antara Presiden dan Menteri ESDM tersebut.
Editor: Nunung Septiana