Strategi News — Perguruan tinggi di seluruh Indonesia kini didorong memikul tanggung jawab lebih besar dari sekadar tempat belajar. Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, pemerintah menegaskan institusi pendidikan tinggi harus menjadi pusat riset dan inovasi yang menopang kemandirian bangsa.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan hal itu pada Sabtu (2/5). Ia menegaskan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan program prioritas nasional perlu diperkuat, sejalan dengan agenda transformasi pendidikan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Perguruan Tinggi Wajib Perkuat Riset di Tengah Gejolak Global
“Institusi pendidikan tinggi harus menjadi tulang punggung riset dan inovasi guna mewujudkan kemandirian bangsa di tengah gejolak global,” kata Brian, seperti dilaporkan Antara, Sabtu (2/5).
Baca Juga:
Pernyataan itu mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi sektor pendidikan tinggi Indonesia saat ini. Persaingan teknologi antarnegara kian sengit, sementara ketergantungan pada riset dan inovasi luar negeri masih tinggi. Perguruan tinggi dituntut bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan solusi konkret bagi tantangan nasional.
Hardiknas Jadi Titik Tolak Transformasi Berkelanjutan
Peringatan Hardiknas setiap 2 Mei merujuk pada kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional Indonesia. Tahun ini, momentum tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk menegaskan ulang arah kebijakan pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pemerataan akses, tetapi juga pada kualitas riset dan kontribusi ilmu pengetahuan bagi kepentingan nasional.
Brian menekankan bahwa transformasi yang dimaksud bersifat utuh dan tidak berhenti di satu titik. Artinya, perubahan menyentuh sistem, kurikulum, hingga ekosistem penelitian yang harus terus berkembang seiring kebutuhan zaman.
Agenda sinergi perguruan tinggi dengan program prioritas nasional itu sejalan dengan visi besar pemerintah untuk menjadikan Indonesia mandiri secara teknologi dan sains dalam jangka panjang.
Editor: Sela Rahmawati