Strategi News — 16 ton CO2 per tahun per bus. Angka itu adalah estimasi pengurangan emisi karbon dari setiap bus listrik yang kini beroperasi di PT Bukit Asam (PTBA), salah satu perusahaan tambang pertama di Indonesia yang mulai mengganti armada berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik. Transisi ini bukan sekadar soal lingkungan, tapi juga tentang daya saing industri tambang nasional di tengah tekanan rantai pasok energi global.
Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis, Jisman P. Hutajulu, memaparkan perkembangan ini dalam forum EV Transition in Mining Industry Outlook 2026 yang berlangsung Rabu (29/4/2026). Ia menyebut penggunaan kendaraan listrik (EV) di kawasan operasional tambang sebagai bagian dari agenda transisi energi yang lebih besar, sekaligus jalan keluar dari ketidakpastian rantai pasok energi dunia.
“Barang-barang ini (kendaraan listrik) menjadi solusi ke depan,” kata Jisman.
Baca Juga:
PTBA dan PT Vale Sudah Jalan, Emisi Mulai Turun
PTBA menjadi contoh konkret yang disebut Jisman. Perusahaan tambang batu bara milik negara itu sudah menerapkan program eco-mechanized mining, yaitu penggantian peralatan tambang berbahan bakar fosil ke sistem elektrik. Shovel listrik, hybrid dump truck, bus listrik, hingga pompa tambang berbasis listrik sudah beroperasi di sana.
PT Vale Indonesia menyusul. Perusahaan tambang nikel itu sudah mengoperasikan kendaraan pengangkut bijih (ore) di area tambang Sorowako, Sulawesi Selatan.
Dua nama besar ini menjadi gambaran bahwa transisi EV di sektor pertambangan bukan lagi wacana. Tapi jalan masih panjang, dan tantangannya tidak kecil.
Infrastruktur Pengisian Jadi Bottleneck
Salah satu hambatan terbesar adalah soal kelistrikan di kawasan tambang. Jisman menjelaskan bahwa wilayah tambang umumnya berada jauh dari jaringan listrik utama, sehingga membutuhkan transmisi distribusi sendiri atau sistem kelistrikan mandiri untuk mendukung infrastruktur pengisian daya EV.
Untuk mengatasi ini, Kementerian ESDM bekerja sama dengan PLN dan mitra strategis termasuk lembaga RCI telah menyusun National Charging Infrastructure Roadmap, peta jalan pembangunan infrastruktur pengisian daya secara nasional.
“Dibutuhkan reformasi regulasi, mobilisasi pembiayaan, hingga pemilihan teknologi serta sumber daya yang tepat,” ujar Jisman.
Target Net Zero Emission Nasional di Ujung Jalan
Jisman menegaskan bahwa percepatan transisi energi di sektor pertambangan bukan pilihan, melainkan keharusan. “Akselerasi transisi energi pada sektor pertambangan menjadi bagian penting dalam menurunkan emisi sekaligus mendukung target Net Zero Emission nasional,” tegasnya.
Target Net Zero Emission (NZE) adalah kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer setara dengan jumlah yang diserap kembali, sehingga akumulasi emisi secara neto menjadi nol. Indonesia menargetkan NZE pada 2060.
Ia juga menekankan bahwa penguatan ekosistem industri memerlukan kolaborasi tiga pihak: pemerintah, industri tambang, dan penyedia energi, khususnya untuk membangun rantai pasok baterai, infrastruktur pengisian, dan layanan pendukung lainnya.
“Dengan EV perusahaan tambang bisa lebih berkontribusi terhadap penciptaan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan,” kata Jisman.
Peta jalan infrastruktur pengisian daya nasional yang kini tengah disusun akan menjadi ujian apakah sinergi antara pemerintah, PLN, dan industri tambang cukup kuat untuk mendorong transisi ini dari pilot project menjadi standar industri secara luas.
Editor: Ilham Maulana