UEA Resmi Hengkang dari OPEC per 1 Mei 2026, Guncang Kartel Minyak Dunia

Strategi News — Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pengunduran diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), efektif mulai 1 Mei 2026. Pengumuman itu disampaikan resmi melalui kantor berita negara UEA, WAM, pada Rabu (29/4).

Keputusan ini mengejutkan banyak pihak. UEA bukan anggota pinggiran — negara itu menyumbang sekitar 3% hingga 4% pasokan minyak dunia, menjadikannya salah satu produsen terbesar di planet ini.

UEA Tinggalkan OPEC Sekaligus OPEC+, Termasuk Aliansi dengan Rusia

Pernyataan resmi pemerintah UEA menyebut keputusan ini bukan langkah impulsif, melainkan bagian dari kalkulasi jangka panjang. “Keputusan ini sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang Uni Emirat Arab serta pengembangan sektor energinya, termasuk mempercepat investasi dalam produksi energi domestik,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Lebih dari sekadar keluar dari OPEC inti, UEA juga memutus keanggotaan di OPEC+ — aliansi yang menggabungkan negara-negara OPEC dengan Rusia dan beberapa produsen minyak besar lainnya. Aliansi ini dibentuk pada 2016 dan selama bertahun-tahun menjadi instrumen utama pengendalian harga minyak global melalui kesepakatan pemangkasan produksi bersama.

Menteri Energi UEA: Ini Evolusi, Bukan Pemutusan Hubungan

Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, angkat bicara melalui akun media sosial X miliknya. Ia menggambarkan langkah ini sebagai respons terhadap dinamika pasar, bukan sekadar keputusan politis.

“Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC mencerminkan evolusi berbasis kebijakan yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang,” kata Mazrouei.

Mazrouei menambahkan bahwa UEA tidak akan menarik diri dari tanggung jawab sebagai pemasok energi dunia. “Kami tetap berkomitmen terhadap ketahanan energi, menyediakan pasokan yang andal, bertanggung jawab, dan rendah karbon sambil mendukung pasar global yang stabil,” tuturnya.

Ketegangan Kuota Produksi Sudah Lama Memanas

Hengkangnya UEA bukan tiba-tiba. Selama beberapa tahun terakhir, Abu Dhabi terus mendorong OPEC untuk menaikkan kuota produksinya — permintaan yang kerap bergesekan dengan posisi Arab Saudi sebagai pemimpin de facto kartel tersebut. UEA tengah giat memperluas kapasitas produksi domestik jauh melampaui batas yang ditetapkan OPEC, sehingga kuota yang ada justru menjadi beban bagi ambisi ekonominya.

UEA bergabung dengan OPEC pada 1967, tujuh tahun setelah organisasi itu didirikan oleh Arab Saudi, Iran, Irak, Venezuela, dan Kuwait. Kini, setelah hampir enam dekade menjadi anggota, UEA menarik diri.

Kepergian salah satu produsen terbesar dunia ini memukul OPEC di titik vital. Secara kolektif, anggota OPEC mengendalikan hampir 80% cadangan minyak terbukti di seluruh dunia — dan UEA adalah salah satu pemegang porsi terbesar dari cadangan itu.

Dengan hengkangnya UEA, kemampuan OPEC untuk menjaga koordinasi produksi dan mempertahankan stabilitas harga minyak global kini dipertanyakan. Para pelaku pasar energi dan negara-negara pengimpor minyak menanti perkembangan selanjutnya, terutama bagaimana Arab Saudi dan anggota tersisa akan merespons perubahan besar ini.

Penulis: Cahaya Nurul Amelia
Editor: Pablo Gerald

Pos terkait