Strategi News — Ratusan warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, menikmati tontonan gratis di lapangan desa mereka—bukan sekadar hiburan biasa, melainkan sarana edukasi antikorupsi yang dibawa langsung oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke tengah kampung. Ini bagian dari layar tancap antikorupsi yang digelar KPK dalam rangkaian Movie Day 2026.
Lima film diputar sekaligus pada Selasa (28/4/2026) malam: Hanya Printer, Cadong, Lansia Lan Sopo, Sandal Bupati, dan Subur Itu Jujur. Semua judul itu lahir dari Anti Corruption Film Festival (ACFFest), ajang tahunan yang diselenggarakan KPK untuk mengajak sineas dari seluruh Indonesia berkarya bertema perlawanan terhadap korupsi.
Tiga Daerah di Jawa Timur Jadi Lokasi Pemutaran Serentak
Ponorogo bukan satu-satunya daerah yang disasar malam itu. Epi Handayani, koordinator program ACFFest, menyampaikan bahwa Movie Day 2026 digelar serentak di tiga kabupaten di Jawa Timur. “Movie Day 2026 digelar serentak di tiga daerah di Jawa Timur, yaitu Tulungagung, Pacitan, dan Ponorogo,” ujarnya.
Baca Juga:
KPK memang tidak selalu datang dengan operasi penangkapan. Lembaga antirasuah ini secara rutin menjalankan program pencegahan korupsi berbasis budaya dan seni, salah satunya lewat medium film. Pendekatan ini menyasar masyarakat akar rumput yang mungkin tidak tersentuh kampanye formal antikorupsi.
Plt Bupati Berbaur dengan Warga di Lapangan Desa
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita hadir dan duduk bersama warga. Dalam kata sambutannya, ia mendorong warga menjadikan film sebagai cermin. “Mari menjadikan film ini sebagai media pembelajaran untuk melawan praktik korupsi,” kata Lisdyarita.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama membangun daerah dengan fondasi integritas. “Ayo membangun Kabupaten Ponorogo bersama-sama dan kita gelorakan semangat antikorupsi. Dengan film ini, masyarakat menjadi lebih paham apa arti korupsi dan bagaimana mencegahnya,” imbuhnya.
Film Dinilai Lebih Efektif dari Penyuluhan Formal
Pegiat film Gelora Yudhaswara menilai format layar tancap lebih mudah dicerna ketimbang ceramah atau sosialisasi konvensional. “Film adalah salah satu medium yang efektif untuk kampanye melawan korupsi,” ucapnya.
Pendekatan ini relevan di daerah rural seperti Watubonang, di mana akses terhadap diskusi publik soal tata kelola pemerintahan masih terbatas. Layar tancap sendiri adalah tradisi pemutaran film di ruang terbuka menggunakan kain putih sebagai layar, yang dulu populer di desa-desa Indonesia sebelum televisi dan internet masuk ke pelosok.
Program Movie Day KPK dijadwalkan terus bergulir. Antusiasme ratusan warga Watubonang yang rela duduk di lapangan hingga malam menjadi gambaran bahwa pendekatan budaya masih punya tempat tersendiri dalam kampanye pencegahan korupsi di tingkat desa.
Editor: Sela Rahmawati