Strategi News — 1 hingga 2 tahun — itu waktu yang dibutuhkan untuk merancang kurikulum baru di perguruan tinggi Indonesia. Tambahkan masa studi 4 hingga 5 tahun, dan seorang mahasiswa yang masuk dengan keahlian teknologi yang sedang tren bisa lulus di era yang sudah meninggalkan teknologi itu jauh-jauh. Di sinilah kekhawatiran para akademisi terhadap rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk menutup program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menjadi semakin konkret.
Kemendiktisaintek Dorong Penutupan Prodi Filsafat, Sejarah, hingga Keguruan
Kemendiktisaintek belakangan ini menyuarakan urgensi bagi perguruan tinggi untuk melakukan kurasi ketat terhadap prodi yang dinilai tidak bersesuaian dengan kebutuhan industri. Narasi ini muncul seiring kecemasan terhadap “surplus sarjana”, khususnya di bidang keguruan dan sosial-humaniora, yang dianggap melampaui daya tampung pasar kerja. Prodi-prodi seperti filsafat, fisika, keguruan, dan sejarah masuk dalam radar peninjauan tersebut.
Pemerintah memandang Indonesia perlu bergerak cepat menyuplai kebutuhan teknis dunia industri, terutama di sektor pertambangan, kedokteran, dan teknologi. Ruang-ruang kelas, dalam visi itu, mesti bertransformasi menjadi semacam laboratorium produksi tenaga kerja siap pakai.
Baca Juga:
Siklus Kurikulum Tak Mampu Kejar Revolusi AI Setiap 6 Bulan
Masalahnya, dunia teknologi tidak bergerak dalam ritme akademik. Revolusi kecerdasan buatan generatif (Generative AI) dan kemajuan perangkat keras mengubah wajah industri setiap enam hingga dua belas bulan. Bandingkan dengan siklus pembuatan kurikulum baru di Indonesia yang membutuhkan 1 hingga 2 tahun, ditambah masa studi sarjana 4 hingga 5 tahun.
Aritmatiaka ini menghadirkan skenario yang ironis. Seorang mahasiswa yang masuk ke prodi “Teknologi X” yang sedang naik daun berpotensi lulus ke dunia kerja yang sudah berpindah ke teknologi “Y”. Tanpa fondasi berpikir kritis yang melampaui prosedur teknis, para lulusan itu kehilangan daya adaptasi.
Kalangan akademisi menyebut kondisi ini sebagai jebakan Red Queen Hypothesis, istilah dari biologi evolusioner yang menggambarkan situasi di mana seseorang harus berlari sekencang mungkin hanya untuk tetap berdiri di tempat yang sama. Obsesi mengejar industri secara linier, dalam logika ini, justru membuat perguruan tinggi tertinggal lebih jauh.
Risiko “Sampah Industri” bagi Lulusan Berbekal Keahlian Sempit
Yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar soal relevansi ijazah. Para sarjana yang dididik dengan kurikulum sempit berbasis kebutuhan industri saat ini, ketika teknologi yang menjadi landasannya terdisrupsi, bisa kehilangan relevansinya secara total. Tanpa kemampuan bernalar yang luas, mereka berpotensi menjadi apa yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai “sampah industri”.
Penutupan prodi humaniora dan ilmu dasar seperti filsafat dan sejarah juga dinilai membawa risiko lain: meluruhnya “imunitas ideologis” bangsa dalam menghadapi dinamika geopolitik dan hegemoni global yang semakin kompleks. Prodi-prodi itu bukan sekadar mengajarkan konten akademik, melainkan menanamkan cara berpikir yang tidak mudah digantikan oleh teknologi apapun.
Perdebatan soal arah pendidikan tinggi Indonesia ini terbuka lebar. Publik kini menunggu apakah Kemendiktisaintek akan mempertimbangkan argumen-argumen tersebut sebelum kebijakan penutupan prodi benar-benar dieksekusi secara masif.
Editor: Pablo Gerald