Kartu Kendali Kursi Roda Diluncurkan, Jemaah Haji Lansia di Masjidil Haram Tak Lagi Bisa Ditelantarkan

Strategi News — Petugas haji Indonesia meluncurkan kartu kendali khusus untuk jemaah lansia pengguna kursi roda di Masjidil Haram, sebagai respons atas maraknya praktik pendorong kursi roda ilegal yang kerap meninggalkan jemaah tanpa pendampingan di tengah kerumunan jutaan orang.

Masalah ini bukan baru. Selama bertahun-tahun, jemaah lanjut usia yang menyewa jasa pendorong kursi roda di kawasan Masjidil Haram kerap mendapati dirinya ditinggal begitu saja setelah pembayaran diterima. Pendorong ilegal itu biasanya menawarkan jasa di pintu-pintu masuk masjid, meminta bayaran di muka, lalu menghilang atau menelantarkan jemaah sebelum ibadah selesai.

Bacaan Lainnya

Kartu Kendali Jadi Bukti Tanggung Jawab Pendorong

Sistem kartu kendali dirancang untuk memutus praktik tersebut. Setiap jemaah lansia yang menggunakan kursi roda akan memegang kartu yang mencatat identitas pendorong resmi yang bertugas mendampinginya. Pendorong tidak bisa kabur begitu saja karena identitasnya tercatat dan bisa dilacak petugas.

Skema ini menempatkan akuntabilitas langsung di tangan pendorong. Jemaah kini punya pegangan fisik yang bisa ditunjukkan kepada petugas jika terjadi penelantaran.

Lansia Jadi Kelompok Paling Rentan di Masjidil Haram

Kondisi fisik Masjidil Haram yang sangat luas, ditambah kepadatan jutaan jemaah dari seluruh dunia, membuat jemaah lansia termasuk kelompok yang paling rentan mengalami kesulitan. Kehilangan pendamping di dalam atau di sekitar masjid bisa berakibat serius, mulai dari tersesat hingga mengalami masalah kesehatan tanpa pertolongan segera.

Jemaah haji Indonesia sendiri didominasi kalangan usia lanjut. Banyak di antara mereka yang baru bisa berangkat setelah antre bertahun-tahun, sehingga kondisi fisik saat tiba di Tanah Suci sudah tidak lagi prima.

Dengan sistem kartu kendali ini, petugas berharap jemaah lansia bisa menjalankan ibadah dengan lebih aman dan terlindungi dari praktik-praktik yang merugikan di sekitar kawasan masjid terbesar di dunia itu.

Penulis: Nunung Septiyana
Editor: Ilham Maulana

Pos terkait