Strategi News — Jutaan pelajar di Jawa Timur kini menjadi bagian dari sistem pendidikan yang diklaim paling produktif dalam mengantarkan lulusan ke perguruan tinggi negeri tanpa tes. Tujuh tahun berturut-turut, Jawa Timur mencatat rekor sebagai provinsi dengan jumlah siswa terbanyak yang diterima di PTN melalui jalur tanpa seleksi tulis.
Capaian itu disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memimpin Upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin. Dalam kesempatan itu, Khofifah menegaskan program “Jatim Cerdas” sebagai fondasi utama yang memposisikan Jawa Timur sebagai barometer pendidikan di tingkat nasional.
“Mari kita perkuat kolaborasi untuk mengembalikan esensi pendidikan, kita butuh pendidikan yang tidak sekadar mengejar prestasi, tapi juga merawat kemanusiaan, yang tidak hanya mengasah kecerdasan, tapi juga membentuk karakter dan integritas,” kata Khofifah di hadapan para peserta upacara.
Baca Juga:
Siswa Berisiko Putus Sekolah Jadi Prioritas
Bukan hanya prestasi akademik yang dikejar. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memperluas jangkauan ke anak-anak yang terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan. Khofifah menyebut pihaknya aktif menjemput bola.
“Kita aktif menjangkau anak-anak yang berisiko putus sekolah di manapun mereka berada, memastikan mereka kembali mendapatkan hak pendidikan secara utuh,” ujarnya.
Pemprov Jatim juga memperkuat kualitas lingkungan belajar lewat penyediaan sarana dan prasarana yang aman, sehat, bersih, dan nyaman. Sekolah, menurut Khofifah, harus punya peran lebih dari sekadar tempat hadir. “Sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang inspiratif, bukan sekadar tempat hadir,” tegasnya.
Gawai Diatur, Konseling Diperkuat
Dua isu yang kerap luput dari perhatian, yakni kesehatan mental siswa dan ketergantungan pada gawai, kini masuk dalam agenda resmi Pemprov Jatim. Layanan Bimbingan dan Konseling diperkuat sebagai penyangga ketahanan psikologis peserta didik.
Penggunaan gawai saat pembelajaran pun diatur ulang. Tujuannya satu: mendorong siswa kembali berinteraksi dan berkolaborasi secara langsung di dalam kelas, bukan terpaku pada layar masing-masing.
Inovasi dari Kandang Ayam hingga Kendaraan Listrik SMK
Khofifah memberi contoh nyata inovasi pendidikan yang sudah berjalan di lapangan. Ia menyebut siswa SMK di Ploso Klaten, Kediri, yang berhasil mengelola peternakan ayam petelur modern dengan produk telur omega.
“Saya melihat di Ploso Klaten Kediri, anak-anak SMK bisa melakukan mekanisme peternakan yang cukup modern, ada ayam petelur yang telurnya sudah menjadi bagian dari telur omega,” katanya.
Berbagai program inovasi lain juga tengah berjalan, mulai dari Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (Sikap), East Java Innovative Education Summit (EJIES), sistem double track di SMA, pengembangan kendaraan listrik di SMK, hingga Program Terapan Ekonomi Guru (Proteg).
Tema Hardiknas 2026 yang diusung secara nasional, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, selaras dengan tema daerah yang dipilih Jawa Timur: “Jatim Cerdas, Pendidikan Berdampak, Mewujudkan SDM Unggul dan Berdaya Saing”. Khofifah menyebut keselarasan itu bukan kebetulan, melainkan bagian dari arah besar menuju Indonesia Emas 2045. Sejauh mana target itu tercapai akan tercermin dari kondisi nyata di ruang-ruang kelas seluruh pelosok Jawa Timur dalam tahun-tahun mendatang.
Editor: Sela Rahmawati