Ekonomi Jawa Tengah Triwulan I 2026 Tumbuh 5,89 Persen, Tertinggi Sejak 2011

Strategi News — Selasa (5/5/2026), Badan Pusat Statistik Jawa Tengah merilis kabar yang disambut baik oleh pemerintah provinsi: pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan I 2026 mencapai 5,89 persen secara year on year (YoY), melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen pada periode yang sama.

Kepala BPS Jateng Ali Said menyampaikan data tersebut melalui siaran pers daring. Angka 5,89 persen bukan sekadar unggul dari rata-rata nasional, tapi juga merupakan yang tertinggi yang pernah dicatat Jawa Tengah sejak tahun 2011.

Bacaan Lainnya

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah triwulan I 2026 secara year on year tercatat 5,89%. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari nasional yang mencapai 5,61%, dan merupakan pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2011,” ujar Ali Said.

Lebaran, MBG, dan Investasi Jadi Pendorong Utama

Ali menyebut sejumlah faktor yang mendorong lonjakan pertumbuhan ini. Nilai investasi Jawa Tengah tumbuh 5,35 persen secara YoY sepanjang Januari hingga Maret 2026. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga turut berperan: jumlah penerima manfaat melonjak dari 6,7 juta orang menjadi 9,01 juta orang dalam kurun triwulan tersebut, sejalan dengan bertambahnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga mencapai 3.958 unit.

Kawasan Ekonomi Khusus pun mencatat pergerakan signifikan. Ekspor tumbuh 56,51 persen dan impor melonjak 292,11 persen dibanding triwulan IV 2025.

Faktor lain yang tak bisa diabaikan adalah momen Hari Raya Idulfitri. Arus mudik dan balik yang masif memicu pergerakan ekonomi regional secara luas, khususnya di sektor akomodasi, kuliner, dan transportasi.

Sektor Akomodasi dan Konstruksi Pimpin Pertumbuhan

Dari sisi sektoral, penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi: 14,14 persen. Konstruksi tumbuh 11,91 persen, sementara transportasi dan pergudangan naik 9,83 persen.

“Peningkatan aktivitas penyediaan akomodasi dan makan minum, terutama didorong oleh kenaikan tingkat okupansi hotel dan penyediaan makanan minuman selama momen puasa Ramadan dan Idulfitri, serta didorong oleh program makan bergizi gratis,” jelas Ali.

Lonjakan konstruksi, menurut Ali, utamanya berasal dari pembangunan koperasi Desa Merah Putih yang berlangsung masif di berbagai wilayah Jawa Tengah. Pertumbuhan transportasi dan pergudangan sendiri dipicu kenaikan trafik perjalanan selama musim mudik lebaran 2026.

Gubernur: Ini Hasil Gotong Royong

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyambut data BPS dengan menekankan bahwa pencapaian ini bukan hasil kerja satu pihak saja.

“Alhamdulillah, pertumbuhan ini menunjukkan arah yang semakin baik. Ini bukan kerja satu pihak, tapi hasil gotong royong dan kolaborasi semua elemen,” kata Luthfi.

Luthfi menyebut menguatnya investasi sebagai indikator kepercayaan dunia usaha terhadap iklim bisnis di Jawa Tengah. Ia menyatakan komitmen untuk terus menjaga sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat.

Dengan capaian triwulan pertama yang melampaui angka nasional, perhatian kini tertuju pada apakah momentum pertumbuhan ini mampu dipertahankan hingga akhir 2026, di tengah tantangan ekonomi global yang masih bergejolak.

Penulis: Neneng Nurhayati
Editor: Sela Rahmawati

Pos terkait