Strategi News — Badan Pusat Statistik (BPS) resmi memulai Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) pada 1 Mei hingga 31 Agustus 2026 di seluruh Indonesia. Pendataan berskala nasional ini dirancang untuk memotret struktur usaha dan aktivitas ekonomi secara menyeluruh, mulai dari pelaku usaha mikro hingga bisnis berbasis digital.
“Sensus ekonomi ini menjadi langkah general check up atas kondisi ekonomi yang digunakan untuk memotret kondisi ekonomi terkini secara komprehensif mulai dari struktur pelaku usaha dari skala kecil-besar guna mendeteksi apa yang terjadi dalam ekonomi RI,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam dialog di CNBC Indonesia, Kamis (30/4/2026).
Digelar Setiap 10 Tahun, Dasar Hukumnya UU Statistik 1997
Sensus Ekonomi bukan kegiatan baru. Undang-Undang Statistik 1997 mengatur jadwal tiga jenis sensus besar di Indonesia secara bergilir: sensus penduduk untuk tahun berakhiran angka 0, sensus pertanian untuk tahun berakhiran angka 3, dan sensus ekonomi untuk tahun berakhiran angka 6. Artinya, SE2026 merupakan pelaksanaan rutin yang jatuh tepat pada siklus dasawarsa tersebut.
Baca Juga:
Amalia menyebut hasil sensus ini kelak bisa dimanfaatkan oleh pemerintah maupun pelaku usaha untuk membaca peluang, mengidentifikasi tren ekonomi, sekaligus menjadi acuan pengambilan keputusan investasi ke depan.
Sosialisasi Dua Tahun, Sasar Pemerintah Pusat hingga Daerah
BPS tidak tiba-tiba terjun ke lapangan. Sosialisasi dan diseminasi kepada pelaku usaha, masyarakat, serta pemerintah pusat dan daerah sudah berjalan sejak dua tahun lalu. Persiapan panjang itu mencerminkan skala sensus yang mencakup seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali.
Empat bulan pelaksanaan, dari Mei hingga Agustus 2026, menjadi waktu yang ditetapkan BPS untuk menuntaskan pendataan di lapangan. Cakupannya luas: seluruh unit usaha aktif di berbagai sektor, termasuk pelaku ekonomi digital yang kian tumbuh dalam satu dekade terakhir.
Data SE2026 Jadi Acuan Kebijakan dan Investasi
Bagi pemerintah, data sensus ekonomi menjadi bahan baku perencanaan. Peta struktur usaha yang dihasilkan bisa memperlihatkan sektor mana yang tumbuh, segmen mana yang stagnan, dan di mana celah investasi paling terbuka. Pelaku usaha swasta pun bisa menggunakan data yang sama untuk memetakan persaingan dan potensi pasar.
Sensus terakhir dilakukan pada 2016, sehingga SE2026 akan merekam perubahan struktural ekonomi Indonesia selama satu dekade penuh, termasuk dampak pandemi Covid-19 dan lonjakan ekosistem ekonomi digital pascapandemi.
Publik dan pelaku usaha yang dikunjungi petugas BPS selama periode pendataan diminta memberikan data yang akurat agar hasil sensus benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi nasional secara utuh.
Editor: Pablo Gerald