Strategi News — Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, kembali menahan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen pada Rabu (29/4/2026), keputusan yang langsung mendapat respons dari kalangan ekonom Indonesia soal dampaknya terhadap nilai tukar rupiah dan arah kebijakan Bank Indonesia.
“Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, mencari kestabilan barunya di tengah tekanan global. Dalam fase seperti ini, pasar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa otoritas siap menjaga stabilitas,” kata Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, kepada Antara di Jakarta, Kamis.
Rupiah Dinilai Belum Temukan Titik Keseimbangan Baru
Istilah overshooting merujuk pada kondisi di mana tekanan terhadap nilai tukar bergerak melampaui fundamental ekonomi jangka pendek. Dalam situasi ini, rupiah belum menemukan titik keseimbangan baru di tengah gejolak pasar global yang masih berlangsung.
Baca Juga:
Fakhrul menyebut Bank Indonesia (BI) perlu segera menunjukkan tightening bias yang lebih tegas, yakni kecenderungan untuk memperketat kebijakan moneter, sebagai upaya menjaga kepercayaan pasar. “Begitu BI menunjukkan langkah siap melakukan monetary tightening, siap-siap rupiah akan bisa kembali menguat,” ujarnya.
Pesan itu bukan sekadar soal mengikuti langkah The Fed. “Respons hawkish dari Bank Indonesia menjadi penting, bukan hanya untuk menahan tekanan nilai tukar, tetapi juga untuk mengelola ekspektasi pasar. Ini bukan soal mengejar The Fed, tetapi soal menjaga kepercayaan terhadap stabilitas domestik,” tegasnya.
Perubahan Pendekatan Kebijakan Global yang Lebih Reaktif
Keputusan The Fed untuk kembali menahan suku bunga bukan berdiri sendiri. Ketua Fed Jerome Powell dinilai makin berhati-hati, mencerminkan bahwa tekanan inflasi dan risiko global belum sepenuhnya reda.
Fakhrul melihat tren yang lebih luas. Ada wacana munculnya figur seperti Kevin Warsh di lingkaran kebijakan AS, yang cenderung mendorong pendekatan berbasis realisasi data ketimbang forward guidance (komunikasi kebijakan yang memberi panduan ke depan). Jika arah itu benar-benar terwujud, lanskap kebijakan moneter global bisa berubah drastis.
“Jika kebijakan global bergeser menjadi less forward-looking dan lebih reactive terhadap realisasi inflasi dan risiko aktual, maka volatilitas akan menjadi the new normal. Ini berarti negara seperti Indonesia harus jauh lebih sigap dan tegas dalam menjaga stabilitas,” kata Fakhrul.
APBN dan Program MBG Juga Masuk Radar Pasar
Tekanan tidak hanya datang dari sisi moneter. Di sisi fiskal, kepastian arah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi variabel yang dipantau pasar.
Fakhrul menyoroti penyesuaian anggaran yang mulai dilakukan pemerintah, termasuk pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah kalibrasi belanja itu, menurutnya, justru memberi sinyal positif. “Penyesuaian anggaran, termasuk dalam program MBG, menunjukkan bahwa pemerintah responsif terhadap dinamika fiskal dan tidak terjebak dalam rigiditas. Ini penting untuk menjaga kredibilitas APBN di tengah tekanan global yang meningkat,” katanya.
Pasar, lanjut Fakhrul, saat ini menunggu kejelasan target fiskal dan strategi pembiayaan pemerintah, terutama di tengah potensi tekanan dari harga energi dan kebutuhan belanja domestik. “Kepastian target APBN menjadi kunci. Pasar harus melihat bahwa pemerintah memiliki ruang dan fleksibilitas,” ujarnya.
Dengan The Fed yang masih menahan suku bunga dan ketidakpastian global yang belum mereda, mata kini tertuju pada langkah Bank Indonesia dalam rapat kebijakan berikutnya. Respons BI akan menjadi sinyal penting bagi pasar apakah rupiah bisa segera menemukan pijakan stabilnya.
Editor: Pablo Gerald