Tambang Ilegal di Myanmar dan Laos Racuni Sungai Mekong, 70 Juta Jiwa Terancam

Strategi News — Thailand mengekspor beras dan buah-buahan senilai lebih dari US$ 10 miliar (Rp 172,53 triliun) pada 2024. Namun di hulu ladang-ladang subur itu, air yang mengairi sawah dan sungai tempat nelayan menggantung hidup kini tercemar logam berat dari tambang-tambang ilegal di Myanmar dan Laos.

Aktivitas pertambangan logam tanah jarang (rare earth) yang tidak teregulasi di dua negara tersebut dilaporkan telah mengalirkan limbah beracun ke anak-anak sungai Mekong. Sungai sepanjang hampir 5.000 kilometer itu menjadi sumber kehidupan bagi sekitar 70 juta orang di Asia Tenggara, mulai dari petani yang mengairi ladang hingga nelayan yang mengandalkan tangkapan ikan harian.

Nelayan Chiang Saen Tak Lagi Bisa Jual Ikan

Sukjai Yana merasakan langsung dampaknya. Nelayan berusia 75 tahun dari Chiang Saen, Thailand utara, ini mengaku kini kesulitan menjual hasil tangkapan karena masyarakat takut dengan kontaminasi sungai. Padahal, keluarganya telah menetap di pusat perikanan itu selama beberapa dekade.

“Saya tidak tahu ke mana lagi saya harus pergi,” kata Yana, seperti dilaporkan CNBC Indonesia, Rabu (29/4/2026).

Kecemasan yang sama menghantui Lah Boonruang, petani berusia 63 tahun yang mengairi ladangnya dari Sungai Kok, anak sungai Mekong yang berhulu di Myanmar. Ia khawatir polusi akan memutus akses pasar ekspor yang selama ini menjadi penopang hidupnya.

“Semua orang takut akan racun. Jika kami tidak bisa mengekspor, petani adalah pihak pertama yang akan mati,” ujar Boonruang.

Logam Berat Mengancam Rantai Pangan Regional

Para ahli memperingatkan bahwa paparan logam berat seperti arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium meningkatkan risiko kanker, kegagalan organ, serta gangguan perkembangan pada anak-anak dan ibu hamil. Warakorn Maneechuket, peneliti dari Universitas Naresuan, menemukan tingkat logam berat yang berbahaya di sampel-sampel dari kawasan tersebut.

Ancaman tidak berhenti di tubuh warga lokal. Beras Thailand dijual di supermarket Amerika Serikat, bawang putihnya masuk dapur-dapur Malaysia. Kontaminasi pada produk pertanian berpotensi merembet ke rantai pangan global. Niwat Roykaew, pendiri lembaga lingkungan The Mekong School, menyuarakan kekhawatiran keras soal ini.

“Kekhawatiran kami adalah racun menumpuk di beras yang kami ekspor. Ini akan membuat industri pertanian beras kami, yang merupakan budaya kami, runtuh,” tutur Roykaew.

Suebsakun Kidnukorn dari Universitas Mae Fah Luang menilai aktivitas tambang ini sedang menghancurkan tulang punggung ekonomi Asia Tenggara, kawasan yang dikenal sebagai “Dapur Dunia” karena kontribusinya terhadap pasokan pangan global.

Bangkok Akui Keterbatasan di Perbatasan

Pemerintah Thailand mengakui posisinya yang sulit. Aweera Pakkamart dari Departemen Pengendalian Pencemaran Thailand menyebut respons pemerintah terkendala oleh keterbatasan keahlian, informasi, dan dana. Penindakan tambang di wilayah Myanmar dan Laos yang sedang dilanda konflik juga berada di luar jangkauan Bangkok.

Ledakan tambang ilegal di dua negara itu dipicu oleh meningkatnya permintaan global atas logam tanah jarang, material yang menjadi komponen penting dalam produksi smartphone dan kendaraan listrik. Semakin tinggi permintaan teknologi hijau di negara-negara maju, semakin masif pula pengerukan di hulu Mekong yang jauh dari pengawasan.

Bagi jutaan warga yang tinggal di sepanjang aliran Mekong, krisis ini bukan soal kebijakan lingkungan semata. Ini soal apakah mereka masih bisa makan, menjual ikan, dan mengairi sawah esok hari.

Penulis: Juwita Sari
Editor: Ilham Maulana

Pos terkait