Strategi News — Dua kawasan dengan total populasi lebih dari satu miliar jiwa itu sudah bermitra sejak 1977. Kini, menjelang usia ke-50 hubungan ASEAN dan Uni Eropa pada 2027, Indonesia mendorong agar kerja sama kedua blok naik kelas ke level perjanjian ekonomi yang mengikat dan konkret manfaatnya bagi rakyat.
Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha C. Nasir hadir dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN–Uni Eropa ke-25 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, Selasa (29/4). Forum yang dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri II Brunei Darussalam dan High Representative Uni Eropa itu mengumpulkan para menteri dan wakil menteri luar negeri dari kedua kawasan.
“Kemitraan ASEAN dan Uni Eropa bukan sekadar simbol. Manfaatnya harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku bisnis, serta dapat diandalkan oleh pasar,” kata Arrmanatha dalam keterangan pers Kementerian Luar Negeri RI, Rabu (29/4).
Baca Juga:
Indonesia Desak ASEAN-UE Segera Finalisasi Perjanjian Ekonomi Komprehensif
Pernyataan itu bukan basa-basi diplomatik biasa. Arrmanatha secara spesifik mendorong terwujudnya Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara ASEAN dan Uni Eropa, sebuah perjanjian perdagangan dan investasi berskala besar yang selama ini masih dalam tahap pembahasan panjang. Bagi pelaku usaha di negara-negara ASEAN, termasuk eksportir Indonesia, CEPA berpotensi membuka akses pasar Eropa dengan hambatan tarif yang lebih rendah.
Pertemuan ke-25 ini juga membahas kerja sama di bidang energi, pangan, konektivitas, transformasi digital, maritim, dan perdagangan sebagai prioritas utama. Forum ditutup dengan adopsi pernyataan bersama para menteri luar negeri kedua kawasan.
Geopolitik Global Jadi Latar Urgensi Pertemuan
Ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik yang terus bergejolak memberi tekanan tersendiri pada forum ini. Wamenlu Arrmanatha berharap Uni Eropa dapat memainkan peran konstruktif di tengah kondisi tersebut. Ia juga mendorong kerja sama tiga pihak antara ASEAN, Uni Eropa, dan negara-negara Selatan Global guna mempertahankan sistem internasional yang terbuka, adil, dan stabil.
Reformasi sistem multilateral turut disoroti. Arrmanatha menekankan pentingnya kolaborasi kedua kawasan dalam mewujudkan tata kelola global yang lebih inklusif dan responsif terhadap tantangan zaman.
Di sela pertemuan pleno, Wamenlu Nasir melakukan pertemuan kehormatan dengan Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam dan High Representative Uni Eropa. Ia juga menggelar pertemuan bilateral dengan wakil menteri luar negeri Austria, Polandia, Portugal, dan Jerman, memperluas jaringan diplomasi Indonesia secara langsung.
Kemitraan ASEAN-Uni Eropa akan mencapai usia 50 tahun pada 2027. Apakah momentum itu akan ditandai dengan penandatanganan CEPA atau masih sebatas deklarasi, bergantung pada seberapa cepat kedua kawasan mampu menyelesaikan negosiasi yang tersisa.
Editor: Sela Rahmawati