Strategi News — Indonesia berencana mengimpor hingga 150 juta barel minyak mentah Rusia menyusul pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow, di tengah peringatan keras Uni Eropa kepada negara-negara Asia Tenggara agar tidak beralih ke energi Rusia.
“Pembelian minyak dari Rusia hanya akan memperpanjang konflik di Ukraina,” kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, usai bertemu para menteri luar negeri ASEAN di Brunei, Selasa (28/4/2026). Kallas meminta negara-negara kawasan melihat “gambaran besar” dan mengingatkan bahwa langkah itu secara tidak langsung membiayai perang Moskow.
Filipina Terima Minyak Rusia, Thailand dan Vietnam Susul
Peringatan Eropa itu tampaknya tidak banyak mengubah arah kebijakan di kawasan. Filipina, sekutu dekat Amerika Serikat, bahkan sudah lebih dulu bergerak. Negara itu menerima pengiriman pertama minyak mentah Rusia dalam lima tahun terakhir pada Maret lalu. Thailand kini bernegosiasi untuk membeli pupuk dari Rusia. Vietnam mempercepat implementasi kesepakatan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang sudah ditandatangani sebelum perang.
Baca Juga:
Tekanan krisis pasokan dari Timur Tengah mendorong negara-negara Asia Tenggara mencari sumber energi dan pupuk alternatif. Rusia mengisi celah itu.
64% Warga Indonesia Pandang Rusia Positif, Lampaui AS
Di balik pergeseran kebijakan energi ini ada faktor opini publik yang tidak bisa diabaikan. Survei Pew Research Center 2025 mencatat 64% warga Indonesia memiliki pandangan positif terhadap Rusia, angka yang melampaui pandangan positif terhadap Amerika Serikat yang hanya 48%. Survei The Economist pada 2024 juga menunjukkan lebih dari 50% responden di Indonesia dan Vietnam ingin Rusia memenangkan perang di Ukraina.
Ian Storey, peneliti dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, menjelaskan mengapa citra Rusia relatif kuat di kawasan ini.
“Putin dipandang sebagai sosok kuat yang berdiri melawan Barat, dan pembela nilai-nilai tradisional. Citra macho itu cukup diterima di banyak negara di kawasan ini,” ujarnya. Storey menambahkan Rusia juga memiliki hubungan historis dengan negara-negara seperti Vietnam dan Laos.
Rusia Raup Miliaran Dolar dari Lonjakan Harga Energi Global
Bagi Moskow, situasi ini menguntungkan secara ekonomi sekaligus politis. Lonjakan harga energi global dan pelonggaran sementara sanksi yang memungkinkan pembelian minyak Rusia di jalur laut menghasilkan keuntungan miliaran dolar bagi Kremlin. Ini sekaligus memperkuat narasi bahwa upaya Barat mengisolasi Rusia gagal.
Gelombang kerja sama energi antara Rusia dan negara-negara Asia Tenggara memunculkan pertanyaan yang lebih dari sekadar soal pasokan minyak: apakah konflik Timur Tengah justru membuka jalan bagi Moskow untuk memperdalam pengaruhnya di kawasan yang selama ini dianggap wilayah pengaruh Barat?
Uni Eropa kini menghadapi kenyataan bahwa seruan moralnya soal perang Ukraina tidak otomatis diterjemahkan menjadi kebijakan energi oleh negara-negara yang kebutuhan ekonominya mendesak. Respons resmi pemerintah Indonesia atas peringatan Kallas belum disampaikan secara terbuka hingga berita ini diturunkan.
Editor: Nunung Septiana