Strategi News — Lebih dari lima ribu pegawai Badan Karantina Nasional (Barantin) langsung menerima peringatan keras di hari pertama kepemimpinan baru. Integritas menjadi syarat mutlak, dan ancaman sanksi sudah dinyatakan terbuka sejak awal.
Abdul Kadir Karding resmi menjabat Kepala Barantin pada Rabu (29/4/2026), menggantikan Sahat Manaor Panggabean dalam serah terima jabatan yang berlangsung di Auditorium Tagor Sutan Harahap BUTTMKHIT, Bekasi, Jawa Barat. Dalam sambutan perdananya, Karding tidak berbicara soal program kerja atau target lembaga. Ia memilih satu topik: kejujuran.
Karding Sebut Barantin Ladang Gratifikasi jika Integritas Lemah
Karding terang-terangan menyebut sektor karantina sebagai area yang rentan penyimpangan. Bukan sekadar kiasan. Ia merinci celah-celah yang menurutnya nyata ada di lapangan.
Baca Juga:
“Saya paham Badan Karantina ini banyak godaan setan terkutuk. Benar-benar yang serius ini. Semua-semuanya bisa dikelola jadi uang, jadi gratifikasi. Bisa ini. Karena selain manusia, dia menjadi kewenangannya dia. Dan itu menyangkut izin keluar masuk, sertifikat, macam-macam, rekomendasi,” kata Karding di hadapan para pegawainya.
Ia menyebut pesan itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. “Kita juga harus selalu mengingat dan mempedomani perintah Bapak Presiden Prabowo untuk selalu menjunjung tinggi integritas. Ini penting,” ujarnya.
Ancaman Langsung untuk yang Cari Muka atau Beri Hadiah
Karding secara khusus meminta seluruh 5.512 pegawai Barantin menjadikan integritas sebagai prinsip utama berorganisasi. Ia melarang keras budaya memberi hadiah atau mendekati pimpinan dengan imbalan apa pun.
“Saya minta tolong, nggak perlu datang ke saya kirim macam-macam, nggak perlu. Saya alhamdulillah jadi anggota legislatif sudah lima periode, sudah pernah jadi menteri, dan sekarang jadi kepala badan. Insya Allah kebutuhan hidup saya dan anak-anak saya sudah selesai,” ungkapnya.
Ia mempertegas dengan nada yang lebih keras: “Jadi kalau teman-teman mau carmuk atau dekat-dekat dengan saya dengan imbalan-imbalan, justru itu akan berbalik, langsung saya hajar ke situ. Jangan! Sudahlah. Yang penting Anda profesional, bekerja baik, performanya bagus, itu yang kita nilai. Bukan pada setoran, bukan pada hadiah kepada kepala badan. Tolong diingat ini.”
Tanpa Integritas, Kata Karding, Semua Cita-cita Percuma
Karding menegaskan pelanggaran integritas tidak akan ditoleransi di bawah kepemimpinannya, dari level pimpinan puncak hingga petugas di lapangan. “Itu kalau kita tidak menjaga integritas kita, mulai dari kepala sampai ujung tombak di lapangan, maka cita-cita yang kita sampaikan ini percuma kita bicara,” tegasnya.
Ia juga menyinggung soal kebutuhan pribadi yang ia anggap sudah tercukupi dari karier panjangnya. “Tidak ada kompromi soal ini kalau di saya. Ya mungkin saya butuh uang, sebagai manusia. Tetapi insya Allah saya hitung-hitung hidup saya berapa puluh tahun lagi, masih cukup lah uang saya ini,” katanya.
Barantin adalah lembaga yang berwenang mengawasi lalu lintas hewan, tumbuhan, dan produk olahannya di perbatasan Indonesia, termasuk penerbitan sertifikat karantina dan rekomendasi izin masuk-keluar komoditas. Kewenangan ini menempatkan lembaga tersebut di titik strategis dalam rantai perdagangan dan impor-ekspor nasional, yang secara historis rawan praktik suap dan pungutan liar di berbagai negara.
Pidato hari pertama Karding kini menjadi tolok ukur awal yang ia pasang sendiri. Publik dan para pegawai di 5.512 posnya akan menilai apakah peringatan keras itu berhenti di podium, atau benar-benar dijalankan.
Editor: Pablo Gerald