Tiket Rp 1,6 Miliar dan Kontroversi Bezos: Wajah Baru Met Gala 2026

Strategi News — Kehadiran Jeff Bezos sebagai ketua kehormatan Met Gala 2026 membelah opini publik bahkan sebelum satu pun tamu menginjakkan kaki di tangga Metropolitan Museum of Art, New York. Kelompok aktivis turun ke jalan, poster kritik bertebaran di sejumlah sudut kota, dan perdebatan soal arah Vogue sebagai institusi mode dunia kembali mencuat ke permukaan.

Met Gala tahun ini digelar bersamaan dengan peluncuran pameran bertajuk Costume Art di Metropolitan Museum of Art. Sekitar 450 tamu hadir, termasuk Beyoncé, Venus Williams, dan Nicole Kidman, yang memimpin acara bersama pemimpin redaksi Vogue Anna Wintour. Harga tiket dilaporkan mencapai sekitar 100.000 dolar AS atau setara Rp 1,6 miliar per orang.

Bezos di Tangga Museum, Aktivis di Jalanan

Jeff Bezos hadir bersama istrinya, Lauren Sánchez Bezos, dalam kapasitas sebagai ketua kehormatan acara. Posisi itu membawa implikasi yang lebih besar dari sekadar gengsi seremonial. Keterlibatan pendiri Amazon itu sebagai sumber pendanaan utama memicu spekulasi soal kemungkinan akuisisi Condé Nast, perusahaan induk Vogue yang selama puluhan tahun mengelola gala bergengsi ini. Rumor serupa sempat beredar tahun lalu, bersamaan dengan pernikahan Bezos dan Sánchez di Venesia.

Kelompok aktivis Inggris bernama Everyone Hates Elon memasang poster-poster kritik di sejumlah wilayah kota New York, menyoroti peran Bezos dalam acara tersebut. “Saya menyukai budaya selebritas dan mode seperti orang lain, tetapi keterlibatan Bezos membuat Vogue tampak tidak relevan,” kata juru bicara kelompok itu. “Jangan bilang Bezos terlibat karena selera modenya.”

Dari arena politik, Wali Kota New York Zohran Mamdani memilih tidak hadir, memutus tradisi panjang kehadiran kepala pemerintahan kota itu di acara tahunan ini.

Pameran Sorot Tubuh yang Selama Ini Tak Dirayakan Mode

Di balik sorotan para tamu, pameran Costume Art menyimpan gagasan yang jauh lebih serius. Kurator Costume Institute, Andrew Bolton, merancang pameran ini dengan mempertanyakan ulang hubungan antara mode dan seni melalui satu medium yang sama: tubuh manusia.

“Dengan tubuh yang mengenakan pakaian sebagai benang merahnya,” kata Bolton menjelaskan konsep pameran, dilaporkan Guardian edisi Minggu.

Pameran dibagi dalam 13 tema tubuh, mencakup kehamilan, penuaan, disabilitas, hingga berbagai representasi ketelanjangan. Sekitar 200 karya seni dipasangkan secara berdampingan dengan 200 busana dan aksesori pilihan.

“Fokusnya adalah pada tubuh yang terpinggirkan dalam mode, dan tubuh yang belum dihargai baik dalam mode maupun budaya Barat,” ujar Bolton.

Beberapa pasangan karya yang ditampilkan antara lain korset rancangan Michaela Stark yang dihadapkan dengan patung Nana dan Ular karya Niki de Saint Phalle. Patung Venus Pudica dari periode akhir Romawi dipasangkan dengan gaun berbahan rambut manusia karya Dilara Findikoglu. Koleksi lain mencakup trench coat Burberry milik Sinéad Burke, serta karya Rei Kawakubo dan Vivienne Westwood.

Bolton sendiri mengakui karpet merah belum tentu mencerminkan konsep kuratorial secara langsung. Tema busana resmi tahun ini bertajuk fashion is art, mengacu pada eksplorasi pameran tentang keterkaitan mendalam antara mode dan seni rupa.

Met Gala kini berdiri di persimpangan yang tidak mudah: antara pesta mode paling eksklusif di dunia dan pertanyaan yang semakin keras soal siapa yang sesungguhnya mengendalikan arahnya.

Penulis: Ilham Maulana
Editor: Pablo Gerald

Pos terkait