Wisatawan Asing Berbondong ke China untuk ‘Jadi Warga Lokal’, Kunjungan Naik 34 Persen

Strategi News — Bukan lagi Tembok Besar atau mal mewah yang menarik jutaan wisatawan asing ke China. Kini, pemandian 24 jam, semangkuk hotpot larut malam, dan sesi pengobatan tradisional China (TCM) menjadi incaran utama para pelancong internasional yang ingin merasakan langsung denyut kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Tren yang dikenal luas sebagai “hidup seperti warga lokal” ini kian menguat saat China memasuki libur panjang Hari Buruh (May Day) selama lima hari. Administrasi Imigrasi Nasional China memperkirakan arus penumpang lintas perbatasan, baik masuk maupun keluar, rata-rata mencapai 2,25 juta per hari, dengan puncak lebih dari 2,4 juta dalam satu hari.

Bacaan Lainnya

Beijing Catat 2,28 Juta Kunjungan Asing, Tumbuh 34 Persen

Angka-angka itu bukan kebetulan. Beijing sendiri sudah mencatat lebih dari 2,28 juta kedatangan dan kepulangan warga negara asing tahun ini, naik 34 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini mencerminkan perubahan selera perjalanan yang jauh lebih dalam dari sekadar rebound pariwisata pasca pandemi.

Dai Bin, presiden Akademi Pariwisata China (China Tourism Academy), menyebut pergeseran ini sebagai fenomena yang sudah terbaca di platform media sosial global. “‘Becoming Chinese’ (Menjadi warga China) telah menjadi istilah populer di platform media sosial luar negeri,” kata Dai kepada Xinhua. Ia menambahkan bahwa para pelancong kini tidak lagi sekadar “berwisata di China” atau “berbelanja di China”, melainkan mencari pengalaman menyeluruh tentang kehidupan lokal.

Viral-nya “spa ala China” atau pemandian umum 24 jam di TikTok dan YouTube turut mendorong gelombang ini. Konten-konten yang memperlihatkan wisatawan berpakaian piyama sambil menikmati fasilitas spa perkotaan menyebar cepat dan memantik rasa ingin tahu jutaan penonton di seluruh dunia.

Kebijakan Bebas Visa ke 50 Negara Jadi Pendorong Utama

Di balik lonjakan kunjungan itu ada serangkaian kebijakan yang sengaja dirancang untuk memangkas hambatan. China memperluas akses bebas visa sepihak ke 50 negara dan memperpanjang perjanjian bebas visa timbal balik ke 29 negara. Pelancong dari 55 negara bahkan bisa memanfaatkan kebijakan transit bebas visa hingga 240 jam untuk mengunjungi China tanpa perlu mengurus visa terlebih dahulu.

Skema bebas bea, pengembalian pajak belanja, serta layanan pembayaran yang dipermudah turut melengkapi paket kemudahan itu, menurut Dai.

Hasilnya terasa di angka ekonomi. Laporan Bloomberg yang mengutip World Travel & Tourism Council (WTTC) dan Chase Travel mencatat ekonomi perjalanan dan pariwisata China tumbuh 9,9 persen tahun lalu, lebih dari dua kali lipat rata-rata pertumbuhan global. Pengeluaran wisatawan asing di China pada 2025 bahkan tumbuh lebih dari 10 persen.

“China dapat menjadi ekonomi pariwisata terbesar di dunia pada akhir dasawarsa ini,” ujar Presiden sekaligus CEO WTTC Gloria Guevara, dikutip Bloomberg.

Filosofi Wisata yang Bergeser

Dai Bin merumuskan pergeseran ini dalam satu kalimat sederhana. “Pariwisata adalah tentang merasakan kehidupan indah di tempat yang jauh dari rumah, kehidupan yang seharusnya dinikmati baik oleh warga setempat maupun pengunjung,” katanya.

TCM, atau pengobatan tradisional China, menjadi salah satu contoh nyata daya tarik baru itu. Praktik yang mencakup akupunktur, pijat tuina, hingga terapi herbal ini kini tak hanya dicari oleh wisatawan yang ingin penyembuhan, tetapi juga oleh mereka yang sekadar penasaran dengan warisan budaya China yang berusia ribuan tahun.

Dengan libur panjang Hari Buruh sebagai ujian awal, China tampaknya siap membuktikan apakah tren “menjadi warga lokal” ini bisa bertahan sebagai motor pariwisata jangka panjang, bukan sekadar gelombang viral yang cepat surut.

Penulis: Agung Sadikin
Editor: Sela Rahmawati

Pos terkait