Strategi News — Limfoma, salah satu jenis kanker yang menyerang sistem getah bening, kerap tidak terdeteksi sejak dini karena faktor risikonya sering luput dari perhatian. Setidaknya ada empat kelompok faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan penyakit ini.
Gangguan Sistem Imun Jadi Pemicu Utama
Orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh termasuk dalam kelompok yang paling rentan. Kondisi ini bisa muncul akibat penyakit autoimun, konsumsi obat imunosupresan jangka panjang, atau infeksi tertentu yang melemahkan pertahanan tubuh. Ketika imunitas tubuh tidak bekerja optimal, sel-sel limfosit lebih mudah mengalami mutasi yang berujung pada pertumbuhan kanker.
Infeksi tertentu juga masuk dalam daftar pemicu. Beberapa virus dan bakteri diketahui berkontribusi pada perkembangan limfoma, meski mekanisme pastinya bervariasi tergantung jenis limfoma yang berkembang.
Baca Juga:
Usia dan Riwayat Keluarga Tak Bisa Diabaikan
Faktor usia turut berperan. Risiko limfoma umumnya meningkat seiring bertambahnya umur, meski jenis tertentu seperti limfoma Hodgkin justru lebih sering ditemukan pada usia muda, antara 15 hingga 35 tahun.
Riwayat keluarga dengan kanker darah atau limfoma juga meningkatkan kewaspadaan yang perlu diperhatikan. Seseorang dengan anggota keluarga tingkat pertama yang pernah didiagnosis limfoma memiliki risiko lebih tinggi dibanding populasi umum.
Deteksi Dini Jadi Kunci
Limfoma terbagi menjadi dua kategori utama: limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Keduanya memiliki karakteristik dan tingkat keparahan berbeda, namun sama-sama dapat ditangani lebih baik jika ditemukan pada stadium awal.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau selangkangan, disertai demam yang tidak jelas sebabnya, keringat malam berlebihan, dan penurunan berat badan tanpa alasan jelas. Kombinasi gejala ini, terutama pada seseorang dengan faktor risiko di atas, perlu segera dikonsultasikan ke dokter.
Pemahaman terhadap faktor risiko limfoma menjadi langkah awal yang menentukan, mengingat kanker ini kerap baru terdiagnosis saat sudah memasuki stadium lanjut. Semakin cepat risiko dikenali, semakin besar peluang penanganan yang efektif.
Editor: Sela Rahmawati