Strategi News — Iran menolak membahas program nuklirnya sebelum Amerika Serikat mencabut blokade di Selat Hormuz dan menghentikan perang di Iran serta Lebanon. Syarat ini diajukan Teheran dalam proposal perdamaian 14 poin yang disampaikan kepada Washington.
Mengutip laporan Axios yang dikutip Sputnik, Minggu, sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut Iran menetapkan tenggat satu bulan untuk menyelesaikan isu-isu itu terlebih dahulu. Hanya setelah semua kesepakatan awal tercapai, perundingan soal nuklir baru akan dibuka dalam tenggat tambahan satu bulan berikutnya.
Proposal 14 Poin: Ganti Rugi hingga Mekanisme Baru Selat Hormuz
Proposal Iran, yang sebelumnya dilaporkan media-media Teheran, mencakup pembayaran ganti rugi kepada Iran dan pembentukan “mekanisme baru” pelayanan pelayaran di Selat Hormuz. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan dikenal sebagai jalur vital ekspor minyak global.
Baca Juga:
Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, dalam wawancara dengan RIA Novosti menegaskan posisi resmi Teheran. “Pemerintah kami, berdasarkan doktrin keamanan dan fatwa pemimpin tertinggi, telah berulang kali menyatakan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dan program nuklirnya bersifat damai,” kata Jalali.
Latar Konflik: Lebih dari 3.000 Tewas sejak 28 Februari
Ketegangan ini bermula ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran mulai 28 Februari, menewaskan lebih dari 3.000 orang. Kedua pihak kemudian menyatakan gencatan senjata pada 8 April.
Namun perdamaian masih jauh dari kata pasti. Perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa hasil. AS kemudian memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang menurut laporan sebelumnya turut menekan produksi minyak Teheran.
Para mediator kini berupaya mengatur putaran baru perundingan damai antara kedua negara. Belum ada kepastian kapan dan di mana perundingan tersebut akan kembali digelar.
Editor: Nunung Septiana